Dalam mediasi tersebut, warga meminta agar truk-truk dialihkan ke jalur alternatif yang tidak melalui permukiman. Menurut Dani, jalur itu tersedia, namun jaraknya lebih jauh sehingga dinilai kurang efisien bagi pihak perusahaan.
“Memang ada jalan alternatif, tapi memutar. Kalau lewat jalur ini lebih cepat, makanya tetap dipakai. Padahal warga yang menanggung dampaknya,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Citatah, Ahmad, menyebut persoalan tersebut sudah dibahas melalui musyawarah bersama para ketua RW dan pihak perusahaan.
Baca Juga:Digitalisasi Arsip Jadi Tantangan Serius, FISIP Unpas Siapkan Mahasiswa Hadapi Era AI dan PaperlessBandoeng 10K Jadi Motor Sport Tourism, Farhan Sebut Bagian Strategi Pembangunan Kota Bandung
Ia mengklaim tidak ada persoalan serius terkait aktivitas truk tambang di jalur tersebut.
“Sudah dirapatkan antara RW 04, 05, 06, dan 16. Dari pihak perusahaan juga sudah dibahas. Tidak ada masalah apa pun,” kata Ahmad saat dihubungi terpisah.
Ahmad bahkan menilai tuntutan pengalihan jalur hanya muncul dari kelompok tertentu yang memiliki kepentingan lain.
Menurutnya, sebagian besar masyarakat tidak mempermasalahkan aktivitas truk tambang yang melintas di desa.
“Kalau masyarakat umum ditanya langsung, termasuk ke RW-nya, tidak ada masalah. Kemarin hanya ada reaksi dari sekelompok orang yang menginginkan hal seperti itu,” tandasnya. (Wit)
