JABAR EKSPRES – Di tengah aktivitas tambang yang terus berjalan, warga Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), justru harus menanggung dampaknya.
Pasalnya, truk-truk pengangkut batu dari kawasan karst Citatah setiap hari melintas di jalur permukiman. Kondisi tersebut memicu debu tebal, kebisingan kendaraan berat, hingga menimbulkan kekhawatiran warga terhadap keselamatan pengguna jalan.
Keluhan itu muncul dari warga di empat RW, yakni RW 04, 05, 06, dan 16. Mereka menuntut agar kendaraan pengangkut hasil tambang tidak lagi melintasi jalan permukiman dan dialihkan ke jalur alternatif yang dinilai lebih aman bagi masyarakat.
Baca Juga:Digitalisasi Arsip Jadi Tantangan Serius, FISIP Unpas Siapkan Mahasiswa Hadapi Era AI dan PaperlessBandoeng 10K Jadi Motor Sport Tourism, Farhan Sebut Bagian Strategi Pembangunan Kota Bandung
Dimas (20), warga setempat, mengatakan intensitas truk tambang yang melintas saat ini jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu. Hampir setiap hari, kendaraan besar itu lalu-lalang dari pagi hingga sore, membawa material batu dari area tambang menuju luar kawasan.
“Sekarang hampir setiap hari truk lewat. Kalau musim hujan jalannya berlumpur, kalau musim panas debunya tebal sekali. Sangat mengganggu warga yang tinggal di pinggir jalan,” kata Dimas saat ditemui di lokasi, Senin (18/5/2026).
Tak hanya mengganggu kenyamanan, warga juga menilai aktivitas truk tambang berpotensi mengancam keselamatan. Muatan batu yang diangkut kendaraan besar dikhawatirkan jatuh ke jalan, sementara risiko ban pecah atau kecelakaan bisa membahayakan pengguna jalan lain.
“Kalau ada batu jatuh atau ban meletus, itu kan bahaya. Apalagi jalan ini dipakai warga setiap hari, banyak pengendara motor juga lewat,” ujarnya.
Ketua RW 04, Dani Ramdani, membenarkan adanya protes warga yang kemudian dibawa ke forum mediasi bersama pihak pengusaha tambang dan pemerintah desa.
Menurutnya, ia hanya memfasilitasi aspirasi masyarakat yang merasa kenyamanan tinggal di sekitar jalur tambang semakin terganggu.
“Keluhan warga jelas, mulai dari debu, kebisingan, dan sekarang kemacetan juga makin parah. Dibanding 10 tahun lalu, lalu lintas truk sekarang jauh lebih banyak,” kata Dani.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Jajaki Kerjasama Pembangunan Dua Rumah SakitCegah Penyimpangan, Kades dan BPD Se-Tasikmalaya Dibekali Ilmu Tata Kelola Desa
Ia menyebut, saat ini jumlah kendaraan pengangkut hasil tambang yang melintas diperkirakan bisa mencapai 100 ritase per hari. Jika satu truk rata-rata membawa 15 ton material, maka ratusan ton batu setiap hari melintas di jalan desa yang notabene menjadi jalur aktivitas warga.
