May Day 2026: Momentum Koreksi Nasional, 200 Ribu Buruh Geruduk Monas

May Day
Ratusan ribu pekerja dari berbagai federasi dan konfederasi diperkirakan memadati kawasan Monas, Jakarta, untuk memperingati May Day, Jumat (1/5/2026). 
0 Komentar

BANDUNG – Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026 bukan sekadar ritual tahunan. Ini menjadi momentum koreksi nasional bagi pemerintah dan industri manufaktur yang kini berada di ambang bahaya.

Lebih dari 200.000 pekerja dari berbagai federasi dan konfederasi diperkirakan memadati kawasan Monas, Jakarta. Massa FSP LEM SPSI dari Jawa Barat dan DKI Jakarta akan bergerak dalam konvoi bermotor secara serentak mulai pukul 06.00 WIB.

Massa Jakarta Utara start dari IBI, Jakarta Timur dari Bundaran Pajak Pulogadung, Jakarta Barat dari Daan Mogot, sementara massa Bekasi berangkat dari GTC FSP LEM SPSI Bekasi. Kegiatan ini direncanakan dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto dan diharapkan menjadi ajang dialog substantif antara pemerintah dengan perwakilan buruh.

Baca Juga:Tak Pusing LPG Naik, Peternak Bandung Ubah Kotoran Hewan Jadi EnergiSinergi ALIDI di ARCH:ID 2026: Kolaborasi Lintas Disiplin Didukung Javaco

“May Day tahun ini adalah peringatan terbuka. Jika aspirasi buruh tidak digubris, krisis ke depan bukan karena tidak diketahui, melainkan karena sengaja dibiarkan,” tegas Ketua DPD FSP LEM SPSI Jabar, Ir. Muhamad Sidarta di Kota Bandung, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, industri manufaktur Tanah Air kini berada dalam kondisi rawan. Sidarta yang juga Wakil Ketua Umum DPP FSP LEM SPSI ini memaparkan, tekanan yang semula bersifat siklus kini menunjukkan gejala struktural serius. Jika tidak segera diatasi, fondasi ekonomi nasional bisa goyah.

Indeks PMI Manufaktur S&P Global sempat tertekan di bawah 50 sepanjang 2025, meski awal 2026 sempat rebound ke zona ekspansi. Namun pergerakannya masih fluktuatif dan rapuh. Di lapangan, klaim jaminan sosial meningkat, efisiensi karyawan dilakukan secara masif, dan indikasi PHK terus bermunculan meski data resmi BPS belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di pabrik-pabrik.

“Kita tidak sedang menghadapi krisis terbuka, tapi juga belum pulih sepenuhnya. Ini fase yang sangat rawan. Tanpa koreksi cepat dan tegas, tekanan ini bisa berkembang menjadi perlambatan ekonomi yang lebih dalam dan meluas,” tegas Sidarta.

Daya Beli Pekerja Melemah

Sidarta menjelaskan, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi tumpuan utama perekonomian Indonesia. Begitu daya beli pekerja tertekan, permintaan agregat langsung merosot. Akibatnya produksi terhambat, investasi mandek, dan tekanan terhadap pekerja semakin berat-sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.

0 Komentar