Tak Pusing LPG Naik, Peternak Bandung Ubah Kotoran Hewan Jadi Energi

LPG
Anci Gustiarsah saat mengolah Kohe jadi biogas. (GRAFIS DIOLAH GEMINI AI)
0 Komentar

HENDRIK MUCHLISON, Bandung, Jabar Ekspres

SETIAP pagi, saat matahari mulai meninggi di atas kandang sapi, Anci Gustiarsah tidak lagi mengeluh soal harga LPG yang baru naik. Ia hanya tersenyum sambil menyalakan kompor. API biru yang stabil itu bukan berasal dari tabung gas elpiji, melainkan dari kotoran 60 ekor sapi yang ia pelihara. Bau kotoran yang dulu menyengat kini berubah menjadi energi bersih yang menyalakan kompor di dua rumah tangga sekaligus. “Harga LPG naik kami sudah tidak pusing, karena kompor menyala dari biogas.” Itu adalah ungkapan Anci Gustiarsah, peternak Lembu Sari, menceritakan manfaat nyata pengolahan kotoran hewan (kohe) menjadi energi alternatif berupa gas.

Saat ini, Pemerintah melalui PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi per 18 April 2026. Kenaikan itu juga sebagai buntut dari kondisi global atau perang di Timur Tengah.Kenaikan harga berlaku bagi LPG 5,5 kg dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu. Serta LPG 12 kg dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu. Harga efektif 18 April itu berlaku untuk wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB.

Naiknya harga LPG itu berdampak pada kegiatan masyarakat, dari pelaku usaha hingga kelompok masyarakat yang biasa menggunakan LPG tersebut. Namun hal tersebut tidak terjadi bagi Peternak Lembu Sari. Kelompok peternak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu sudah mengolah limbah kohe menjadi energi baru terbarukan, yakni dalam bentuk biogas.

Baca Juga:Sinergi ALIDI di ARCH:ID 2026: Kolaborasi Lintas Disiplin Didukung JavacoDisrupsi Global Tak Terelakkan, DPR Dorong Lompatan Kebijakan Lintas Sektor yang Lebih Adaptif

Potensi Limbah Ternak Menggunung

Anci Gustiarsah menceritakan, peternakan yang ada di Desa Patrolsari, Kecamatan Arjasari, itu adalah usaha keluarga. Usaha itu dipelopori sang ayah, yaitu Aceng Agus Salam, pada era 1997. Kala itu sang ayah mencoba peruntungan dengan modal satu ekor sapi untuk memulai usaha ternak. “Ayah saat itu pegawai Koperasi Desa, di-PHK karena krisis moneter. Lalu usaha dengan memelihara seekor sapi dan domba,” katanya, Sabtu (25/4).

Usahanya berkembang hingga kini setidaknya ada 60 ekor sapi di kandang yang dipelihara. Hampir semuanya adalah sapi perah. Ada juga sapi potong, tapi jumlahnya tidak sampai 5 ekor. Sementara Lembu Sari sendiri adalah wadah kelompok peternak Desa Patrolsari. Setidaknya ada 8 peternak lain yang tergabung. Mereka berkolaborasi khususnya dalam distribusi hasil usaha ternak seperti susu perah.

0 Komentar