JABAR EKSPRES – Kenaikan harga LPG 5,5 dan 12 kilogram mulai berdampak langsung pada penurunan pembelian, terutama dari pelaku usaha kuliner.
Salah seorang pemilik pangkalan gas LPG di Bandung Barat, Syarief Hidayat Shofa (50), mengatakan penjualan gas nonsubsidi kini mengalami penurunan signifikan sejak harga mengalami penyesuaian.
“Sejak naik, pembeli LPG 5,5 dan 12 kilogram ini seakan-akan menghilang. Saat ini harga eceran gas 12 kilogram Rp240 ribu dan yang ukuran 5,5 kilogram Rp115 ribu,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga:400 Ormas Terdata di Kabupaten Bogor, Kesbangpol Utamakan Pembinaan dan Proses Hukum Terkait Dugaan PungliPolres Tasikmalaya Ungkap Bisnis Trenggiling yang Biasa Dijual Online
Ia menjelaskan, sebelum kenaikan harga, penjualan gas 12 kilogram masih cukup stabil, bahkan bisa terjual 3 hingga 5 tabung per hari. Namun kondisi tersebut berubah drastis setelah harga naik.
“Biasanya yang membeli gas non subsidi ini pengusaha rumah makan atau warung nasi yang cukup besar,” katanya.
Menurutnya, meski LPG nonsubsidi mengalami penurunan permintaan, penjualan LPG subsidi 3 kilogram tidak mengalami lonjakan signifikan. Hal itu dipengaruhi keterbatasan kuota distribusi di tingkat pangkalan.
“Kalau gas bersubsidi memang kuotanya terbatas. Setiap hari kami hanya menerima jatah 90 tabung untuk pengecer dan masyarakat langsung,” jelasnya.
Di sisi lain, seorang pedagang warung nasi di Padalarang, Titin Kartini (33), mengaku tetap bertahan menggunakan LPG 12 kilogram meski harga mengalami kenaikan. Ia memilih menyesuaikan harga jual dibanding beralih ke LPG subsidi.
“Mau tidak mau kita menyesuaikan harga saja kalau ada kenaikan seperti ini,” ujarnya.
Ia menilai penggunaan gas ukuran besar masih lebih efisien untuk usaha kuliner yang sudah ia jalani selama lima tahun terakhir.
Baca Juga:Nestapa Banjir Cigudeg Memaksa Pedagang Cuanki Pulang KampungBanjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, 10 Kontrakan Hanyut Usai Tanggul Jebol
“Biasanya habis 2 sampai 3 minggu. Kalau usaha seperti ini lebih enak pakai gas besar, jadi tidak bolak-balik beli,” katanya.
Titin berharap kenaikan harga tidak berlangsung lama, terutama jika dipicu oleh kondisi global seperti konflik di Timur Tengah.
“Jangan sampai konflik Timur Tengah ini jadi alasan menaikkan harga, tapi pemerintah lupa menurunkan kembali harganya,” tandasnya. (Wit)
