Saat Remaja Saling Menjaga, Kiprah Forum Anak Cimahi Menapaki Beragam Tantangan

Saat Remaja Saling Menjaga, Kiprah Forum Anak Cimahi Menapaki Beragam Tantangan
Safruri Maulina, Ketua Forum Anak Kota Cimahi saat Memberikan Sambutan dalam Pembinaan Forum Anak Kecamatan dan Kelurahan Kota Cimahi di Aula Gedung C Pemkot Cimahi (mong)
0 Komentar

Penurunan anggaran, menurutnya, turut memengaruhi gerak FAJIMI sendiri, baik dalam menjalankan program kerja maupun dalam merespons kasus yang ada.

Saat disinggung mengenai kasus yang kerap muncul, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. Ia menyebut, mayoritas laporan yang masuk berkaitan dengan pelecehan seksual. Selain itu, ada pula kasus yang berkaitan dengan penyimpangan atau transgender seperti LGBT yang disebutnya tengah marak diperbincangkan.

Ia juga menyoroti fenomena anak-anak yang masih beraktivitas melewati batas waktu yang ditentukan. Dalam keterangannya, anak memiliki batas jam malam hingga pukul 21.00. Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda.

Baca Juga:DP3AP2KB Cimahi Soroti KLA yang Masih Dipenuhi Berbagai TantanganDP3AP2KB Cimahi Ungkap Peran Strategis Forum Anak dalam Mewujudkan KLA

Masih ada komunitas maupun warung yang beroperasi di atas jam tersebut. Bahkan, kata dia, ada kasus komunitas yang terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap warga, seperti pembegalan hingga pencopetan.

Tak hanya itu, kebiasaan membolos ke warung saat jam belajar juga menjadi persoalan yang terus berulang.

“Kemudian adanya kasus anak-anak di jam belajar bolos ke warung di luar sekolah,” imbuhnya.

Menghadapi situasi itu, FAJIMI tidak bergerak sendiri. Mereka berkoordinasi dengan DP3AP2KB sebagai langkah kehati-hatian.

“Kami selaku Forum Anak tidak bisa langsung segera mengambil tindakan. Ada bangak hal yang perlu dipertimbangkan terlebih lagi, kami pun masih tergolong anak anak yang membutuhkan perlindungan orang dewasa. Oleh karena itu, setiap progres yang di ambil, harus disetujui oleh banyak pihak dan dipertimbangkan dalam banyak hal,” ujar dia.

Ada kekhawatiran yang tak bisa diabaikan, mulai dari risiko diikuti, diteror, hingga mendapat perlakuan buruk. Karena itu, setiap langkah selalu dibicarakan terlebih dahulu dengan dinas.

“Nantinya, ketika memang dibutuhkan, kami akan melakukan berbagai tindakan seperti yang pertama sosialisasi, kemudian melakukan pembinaan dan rapat,” cetusnya.

Baca Juga:Peluang Cuan Besar bagi Indonesia, Barantin Ekspor Langsung Durian Beku ke ChinaHarga Minyakita Naik Tipis, Mendag Klaim Tidak Ada Kelangkaan Stok 

Di tengah keterbatasan yang kerap membatasi langkah, FAJIMI hadir seperti cahaya kecil yang tak memilih padam. Mereka menegaskan bahwa remaja bukan sekadar bayang-bayang dari kebijakan, melainkan denyut yang hidup, yang mampu merasa, bersuara, dan bergerak menjawab persoalan di sekitarnya.

Di lanskap yang penuh riuh dan tak selalu ramah, mereka tetap berdiri. Menjadi pelopor yang menyalakan harapan, pelapor yang mengantarkan suara-suara lirih, sekaligus ruang pulang bagi cerita-cerita yang selama ini tersisih dalam sunyi.

0 Komentar