FAJIMI tak hanya ditempatkan sebagai objek, tetapi juga tumbuh sebagai subjek dalam pembangunan. Mereka dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan di Kota Cimahi membawa suara remaja agar tak lagi sekadar didengar, tetapi juga dipertimbangkan.
Safruri kemudian mengisahkan bagaimana laporan-laporan itu bermula sering kali dari percakapan sederhana antar teman. Anggota FAJIMI, yang tersebar di berbagai SMP dan SMA sederajat di Cimahi, menjadi simpul awal dari informasi yang mengalir.
“Teman-teman ini tentunya punya teman juga. Jadi, barangkali teman-temannya ini menghadapi suatu masalah ataupun suatu kasus, itu bisa disampaikan ke anggota FAJIMI,” ucapnya.
Baca Juga:DP3AP2KB Cimahi Soroti KLA yang Masih Dipenuhi Berbagai TantanganDP3AP2KB Cimahi Ungkap Peran Strategis Forum Anak dalam Mewujudkan KLA
Namun, kata dia, setiap laporan tak serta-merta diteruskan. Ada proses yang harus dilalui, mengurai cerita dan data, mengumpulkan bukti, hingga memastikan kronologi kejadian benar-benar jelas sebelum sampai ke tangan dinas terkait.
“Anggota FAJIMI ini nantinya akan diproses, akan dikumpulkan bukti-bukti lengkapnya, akan digeledah kembali kira-kira kasusnya itu seperti apa, teknisnya seperti apa, yang di mana nantinya akan kami sampaikan kepada Dinas DP3AP2KB untuk diproses,” katanya, dengan nada yang tetap menyimpan optimisme.
Laporan itu, lanjutnya, tak serta-merta melaju begitu saja. Ia menempuh jalan berlapis melewati kelurahan, menyinggahi kecamatan, sebelum akhirnya tiba di dinas, sebagai bagian dari alur penanganan yang disusun rapi.
Saat ditanya apakah laporan bisa langsung diproses, Safruri menjawab dengan mantap, “BISA”. Namun, ada syarat yang tak bisa ditawar, bukti yang jelas, kronologi yang runtut, saksi, serta pihak-pihak yang terlibat harus disertakan.
Di balik ketenangan yang ia jaga, gadis berjilbab itu paham betul, jalan yang mereka tempuh tak selalu ramah. Ada tantangan yang kerap datang diam-diam, terutama soal bukti. Sesuatu yang seharusnya menguatkan cerita, justru kerap tak hadir dalam banyak kasus.
“Kemudian untuk tantangan lain yang kami hadapi ini ketika anggaran untuk berkegiatan sosial mengalami pemangkasan dari pusat. sehingga membuat operasional program kerja sedikit terhambat,” ungkapnya pelan.
“Sedangkan kami harus memproses, namun tidak ada bukti, itu kan sulit juga ya diprosesnya. Kemudian untuk tantangan yang kami hadapi itu ada di bagian penurunan anggaran,” sambungnya.
