JABAR EKSPRES – Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi gula di Indonesia.
Di tengah meningkatnya produksi nasional, konsumsi gula di tingkat rumah tangga justru mengalami penurunan, sementara sektor industri tampil sebagai pengguna utama.
Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budi Utomo Harmadi, mengungkapkan bahwa tren penurunan konsumsi gula terjadi secara bertahap, termasuk dalam konsumsi per kapita masyarakat.
Baca Juga:Restrukturisasi Utang Whoosh Rampung, Pemerintah Siap Umumkan Skema BaruPeluang Besar! Menkeu akan Buka 380 Lowongan Bea Cukai untuk Lulusan SMA
“Yang menarik, konsumsi gula kita cenderung turun dari waktu ke waktu termasuk konsumsi per kapitanya,” kata Sonny, dikutip dari ANTARA Kamis (9/4).
Pada 2025, produksi gula nasional tercatat mencapai 2,67 juta ton, meningkat dari 2,47 juta ton pada 2024 dan 2,23 juta ton pada 2023.
“Salah satu penopang dari kenaikan produksi gula pada tahun 2025 adalah kenaikan luas panen dari tebu kita,” katanya.
Sentra produksi masih terkonsentrasi di provinsi-provinsi utama seperti Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Distribusi produksi gula kristal putih pun mengikuti pola wilayah tersebut.
Namun, peningkatan produksi tidak berbanding lurus dengan konsumsi rumah tangga. Sepanjang 2025, konsumsi gula rumah tangga berada di kisaran 1,4–1,5 juta ton, dengan tren yang cenderung menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Secara per kapita, konsumsi gula kini berada di level sekitar 5,15 kilogram per orang per tahun. Penurunan ini diduga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat serta perubahan pola konsumsi.
Alih-alih membeli gula secara langsung, masyarakat kini lebih banyak mengonsumsi produk makanan dan minuman jadi yang diproduksi oleh industri maupun sektor jasa.
Baca Juga:Marak Pungli, Bupati Bogor Siapkan Satgas Gabungan Sikat Oknum di Pakansari hingga Tempat WisataIsu Jual Beli Jabatan Melebar, Bupati Bogor Pastikan Proses Internal Bergerak Tanpa Ekspos Publik
“Sehingga mereka tidak membeli gula secara langsung tetapi menggunakan makanan jadi yang dihasilkan baik oleh industri maupaun oleh restoran,” jelasnya.
Hal ini tercermin dari komposisi penggunaan gula nasional, di mana konsumsi rumah tangga hanya menyumbang sekitar 23,13 persen dari total penggunaan.
Sebaliknya, sektor industri pengolahan menjadi pengguna terbesar dengan volume hampir 3,9 juta ton. Tingginya angka ini menunjukkan kuatnya peran industri makanan dan minuman dalam menyerap pasokan gula nasional.
Sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) juga memberikan kontribusi signifikan dengan penggunaan lebih dari 970.000 ton.
