Jembatan Pentasan Berwajah Baru, Pertemukan Kembali Desa di Dua Provinsi

Jembatan Pentasan Berwajah Baru, Pertemukan Kembali Desa di Dua Provinsi
Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro bersama Kepala Dinas PUPR Kota Banjar Agus Saripudin saat mengecek jembatan penghubung dua provinsi antara Jabar dan Jawa Tengah. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ratusan pasang mata warga Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, tertuju pada satu titik di atas aliran Sungai Citanduy.

Di bawah langit cerah, deru mesin dan dentang alat berat mulai terdengar, menandai dimulainya babak baru bagi Jembatan Pentasan. Bagi mereka, jembatan gantung yang mulai direnovasi sebagai urat nadi kehidupan dua desa dan sekitarnya yang selama hampir dua tahun terakhir terabaikan.

Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akhirnya memulai pekerjaan besar di infrastruktur yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Baca Juga:Setahun Bullion Bank, BSI Perkuat Ekosistem Emas Nasional dengan Kelolaan Capai 22,5 TonStok BBM-LPG hingga Pangan Jelang Lebaran Diklaim Terjaga, Benarkah?

Kapolres Banjar, AKBP Didi Dewantoro, secara resmi membuka kegiatan perbaikan yang telah lama dinantikan warga dua desa, yakni Desa Waringinsari di kawasan Banjar, Jawa Barat, dan Desa Sindangmulya, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

“Jembatan ini adalah simpul pemersatu. Selama hampir dua tahun tidak tersentuh pemeliharaan rutin, kondisinya kian memprihatinkan. Padahal, setiap hari puluhan bahkan ratusan warga melintas untuk bekerja, bersekolah, dan mengangkut hasil bumi. Perbaikannya menjadi prioritas mutlak kami,” ujar AKBP Didi, terpisah Minggu (8/3/2027).

Renovasi ini membawa kejutan istimewa. Jembatan Pentasan tidak hanya akan kembali kokoh, tetapi juga hadir dengan identitas baru. Menindaklanjuti instruksi Presiden melalui Kapolri dan Kapolda Jawa Barat, jembatan perbatasan ini akan dikonsep sebagai Jembatan Merah Putih.

“Jembatan ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai penghubung fisik, tetapi juga menjadi ikon pemersatu. Dengan nama Jembatan Merah Putih, kami ingin menanamkan semangat kebangsaan dan konektivitas yang kuat di wilayah perbatasan. Semoga kehadirannya membawa manfaat nyata bagi seluruh masyarakat,” tegas AKBP Didi.

Antusiasme warga terpancar jelas. Para orang tua menggendong anaknya, sementara para pemuda sigap membantu petugas membersihkan area konstruksi.

Seorang pedagang sayur asal Desa Sindangmulya mengaku sangat bergantung pada jembatan ini untuk mengantar dagangannya ke pasar di wilayah Banjar. Jika jembatan rusak, ia harus memutar jauh melewati jalur lain yang memakan waktu dan biaya lebih besar.

Kepala Dinas PUPR Kota Banjar, Agus Saripudin, yang mendampingi Kapolres, memaparkan detail teknis renovasi. Menurutnya, pekerjaan tidak hanya bersifat tambal sulam, tetapi menyentuh aspek fundamental keamanan dan kenyamanan. Tim teknis akan mengganti seluruh alas jembatan yang sudah lapuk dan rapuh akibat diterpa cuaca ekstrem.

0 Komentar