Paguyuban Guru Besar LLDIKTI IV Genjot Lahirkan Ratusan Profesor Baru

Paguyuban Guru Besar
Paguyuban Guru Besar LLDIKTI Wilayah IV saat Raker di Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Kota Bandung, Kamis (5/3/2026).
0 Komentar

BANDUNG – Jumlah guru besar atau profesor di wilayah LLDIKTI IV (Jawa Barat dan Banten) masih sangat terbatas. Persentasenya hanya sekitar 1-3 persen dari total dosen yang mencapai puluhan ribu orang. Kondisi ini menjadi perhatian utama Paguyuban Guru Besar LLDIKTI Wilayah IV yang menggelar Rapat Kerja (Raker) di Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Bandung, Kamis (5/3/2026).

Dewan Pembina Paguyuban Guru Besar LLDIKTI Wilayah IV Prof. Dr. (HC) Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T. menegaskan, pentingnya sinergi antar-guru besar untuk mempercepat promosi jabatan fungsional profesor. Ia menyoroti bahwa jumlah profesor saat ini masih minim dan berpotensi semakin menurun akibat gelombang pensiun.

“Kami akan membangun program kerja sama yang saling menguatkan di antara para guru besar. Tugas utama adalah mendorong para lektor kepala agar dapat segera naik jenjang menjadi guru besar,” ujar Eddy yang juga Rektor Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung ini.

Baca Juga:DPRD & Ormas Islam Ultimatum: THM Bandung Harus Tutup Total saat Ramadan!Ormas Islam Bandung All Out Dukung Perda Anti Penyimpangan Seksual

Menurutnya, setiap perguruan tinggi perlu memberikan dukungan penuh terhadap upaya ini. Paguyuban Profesor akan berperan aktif dengan memberikan pendampingan berbasis pengalaman, termasuk berbagi tips praktis untuk mengatasi berbagai kendala yang kerap dihadapi calon profesor.

“Kami sangat optimistis. Pembentukan Paguyuban Profesor di Jawa Barat merupakan langkah strategis dan sangat positif untuk mempercepat pencapaian jabatan profesor,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Profesor LLDIKTI Wilayah IV periode 2026–2028, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H., menyatakan bahwa program utama tetap berpijak pada tiga tugas pokok sesuai Surat Keputusan Kepala LLDIKTI. Namun, sifat organisasi yang guyub dan harmonis memungkinkan adopsi usulan-usulan spontan dari anggota.

“Program kami bersifat responsif dan cepat. Banyak inisiatif muncul secara tiba-tiba melalui grup diskusi, dan kami langsung mengadopsinya selama sejalan dengan tugas inti,” jelas Edi.

Dia juga menyoroti perlunya menghilangkan praktik penilaian yang bersifat subjektif dalam proses pengusulan profesor, seperti penolakan dengan alasan “kurang wisdom” tanpa dasar yang jelas. Kata Edi, paguyuban akan terus mendorong pimpinan perguruan tinggi agar lebih proaktif mengatasi krisis jumlah profesor di wilayah ini.

0 Komentar