RI Bakal Impor Beras dari AS, Bertentangan dengan Swasembada?

RI Bakal Impor Beras dari AS, Bertentangan dengan Swasembada?
Ilustrasi buruh pelabuhan menurunkan sejumlah karung beras impor di Pelabuhan. FOTO: ANTARA
0 Komentar

JABAR EKSPRES – RI dikabarkan bakal melakukan impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS), sebagaimana salah satu poin kesepakatan dagang antara RI-AS. Itu dilakukan di tengah program swasembada beras.

Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) menyebutkan bahwa Indonesia harus mengimpor komoditas pertanian, salah satunya beras, senilai 4,5 miliar dolar AS, atau sebanyak 1.000 ton per tahun.

Merespons itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengklaim bahwa, rencana impor 1.000 ton beras dari AS tersebut tidak bertentangan dengan swasembada beras.

Baca Juga:Purbaya: APBN Cukup Kuat di Tengah Potensi Krisis Akibat Konflik Iran dengan AS-IsraelSelat Hormuz Ditutup Imbas Konflik Iran dengan AS-Israel, Kemenkeu Pantau Potensi Risiko

Hal itu disampaikan Mentan di sela kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya sebanyak 545 ton senilai Rp18,2 miliar ke Jepang, Singapura dan Timor Leste di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, rencana impor beras itu tidak bertentangan dengan swasembada lantaran jumlahnya sangat kecil, juga bersifat khusus yang diperuntukan bagi turis-turis asing.

“Itu baru akan (diimpor). Itu pun kalau (jadi) diimpor itu adalah beras khusus karena (beras jenis) basmati sesuai dengan (selera) turis-turis yang datang, investor (yang) datang,” ujarnya, dikutip Rabu (4/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa beras yang akan diimpor merupakan jenis khusus, yakni beras basmati untuk memenuhi kebutuhan pasar tertentu. Seperti restoran, hotel, serta wisatawan dan investor asing.

“Karena ‘taste‘-nya ini untuk turis kita yang datang,” kata dia.

Amran pun mencontohkan calon jemaah haji Indonesia di Tanah Suci cenderung memilih beras lokal dibandingkan beras Arab Saudi karena cita rasa lebih sesuai selera masyarakat Indonesia.

“Jadi, sama, kita ke mana nih berangkat (haji), senangnya beras yang pulen, yang beras inpari, Cianjur,” jelasnya.

Baca Juga:Anggaran Pendidikan Dipangkas MBG, Misbakhun: Tuduhan Terlalu BerlebihanImbas Konflik Iran dengan AS-Israel: Rupiah Melemah, BBM Terancam Langka

Ia juga menyoroti rencana ekspor beras sebanyak 2.280 ton dalam waktu dekat ke Arab Saudi sebagai indikator kepercayaan diri pemerintah terhadap produksi domestik. Beras itu akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi calon jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Menurutnya, volume ekspor tersebut justru lebih besar dibandingkan rencana impor, sehingga publik diminta melihat neraca perdagangan beras secara utuh dan proporsional.

Beras yang akan diekspor merupakan beras premium produksi dalam negeri dengan kualitas tinggi dan memiliki daya saing di pasar internasional. Beras itu akan dilakukan Perum Bulog.

0 Komentar