JABAR EKSPRES – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih cukup kuat, di tengah potensi krisis akibat konflik Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS).
Hal itu disampaikan Menkeu usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3) malam.
“Ada bahas antara lain kalau krisis seperti ini berkepanjangan, tahan nggak anggarannya, anggarannya seperti apa. Kalau analisa kita yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi nggak ada masalah,” ujarnya, dikutip Rabu (4/3/2026).
Baca Juga:Selat Hormuz Ditutup Imbas Konflik Iran dengan AS-Israel, Kemenkeu Pantau Potensi RisikoAnggaran Pendidikan Dipangkas MBG, Misbakhun: Tuduhan Terlalu Berlebihan
Bahkan, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah telah membahas skenario ketahanan anggaran apabila krisis global akibat konflik di Timur Tengah berlangsung lebih dari perkiraan.
Menurutnya, perkiraan ini berdasarkan analisis sementara, serta kondisi fiskal terkini yang dinilai masih dalam kategori baik.
Ia mengaku optimis APBN tetap kuat di tengah potensi krisis yang didukung sejumlah faktor, salah satunya kinerja penerimaan negara yang menunjukkan perbaikan signifikan pada awal tahun.
Adapun, penerimaan pajak dan bea cukai pada Januari hingga Februari 2026 tercatat tumbuh sekitar 30 persen.
“Itu angka yang signifikan sekali. Artinya, ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai,” kata dia.
Kemudian, terkait ketahanan ekonomi nasional, Menkeu menyebut bahwa pihaknya telah melakukan stimulus terhadap berbagai skenario harga minyak untuk satu tahun anggaran berjalan.
Purbaya menyebut bahwa harga minyak pada level tertentu masih dapat diserap oleh APBN. Namun, jika lonjakan terjadi secara ekstrem, maka pemerintah akan melakukan perhitungan ulang untuk menyesuaikan kebijakan fiskal.
Baca Juga:Imbas Konflik Iran dengan AS-Israel: Rupiah Melemah, BBM Terancam LangkaKonflik AS-Israel dengan Iran Memanas, Sejumlah Penerbangan Internasional Dibatalkan
“Jadi masih bisa di absorb kalau harga minyak naik kalau terlalu tinggi. Tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang,” pungkasnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung juga menyatakan bahwa APBN 2026 siap menyangga efek gejolak global dengan defisit, yang tetap terjaga di bawah tiga persen.
Juda mengatakan Kementerian Keuangan secara rutin melakukan stress test terhadap berbagai skenario global, termasuk potensi kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.
“Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah tiga persen, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih terjaga,” ujarnya.
