JABAR EKSPRES – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengaku masih terus memantau potensi risiko dari konflik Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS).
Direktur Jenderal Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengaku, pihaknya masih memantau secara ketat imbas konflik Iran dengan AS-Israel tersebut, terlebih usai penutupan Selat Hormuz.
“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional,” ujarnya, dikutip Selasa (3/3/2026).
Baca Juga:Anggaran Pendidikan Dipangkas MBG, Misbakhun: Tuduhan Terlalu BerlebihanImbas Konflik Iran dengan AS-Israel: Rupiah Melemah, BBM Terancam Langka
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah yang kian memanas itu berisiko terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi.
Selain itu, konflik internasional tersebut juga berisiko terhadap peningkatan volatilitas pasar keuangan global yang kini menjadi perhatian utama.
Bahkan, ia menilai bahwa ketegangan perdagangan global juga berpotensi menekan kinerja ekspor nasional, melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya.
Kendati begitu, menurutnya, fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.
Neraca perdagangan surplus 950 juta dolar AS pada Januari 2026. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen (year-on-year/yoy), didorong oleh ekspor nonmigas.
Kinerja ekspor nonmigas didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen (yoy), utamanya minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta komoditas bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan elektronik.
Sementara itu, impor tercatat sebesar 21,20 miliar dolar AS atau tumbuh 18,21 persen (yoy), didominasi kenaikan bahan baku dan barang modal, sejalan dengan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.
Baca Juga:Konflik AS-Israel dengan Iran Memanas, Sejumlah Penerbangan Internasional DibatalkanRI Bakal Beli 50 Unit Pesawat Boeing, Bagian dari Kesepakatan Dagang dengan AS!
Kemenkeu juga memastikan APBN dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Pemerintah juga terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Febrio.
Upaya mitigasi risiko dilakukan melalui percepatan keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam dan peningkatan daya saing produk ekspor bernilai tambah.
Di samping itu, pemerintah juga berupaya mendiversifikasi mitra dagang utama melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional guna memperluas akses pasar dan memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
