Indef Sebut Gejolak Tarif AS Lebih Cepat Mengguncang Pasar Keuangan Indonesia

Indef Sebut Gejolak Tarif AS Lebih Cepat Mengguncang Pasar Keuangan Indonesia
Ilustrasi tarif AS mengguncang pasar keuangan Indonesia. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kebijakan tarif Amerika Serikat kembali menjadi sumber kecemasan pasar global. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai dampak kebijakan tersebut tidak serta-merta menghantam perdagangan barang, melainkan lebih dulu mengguncang sentimen pasar keuangan.

Menurut Rizal, investor global akan cenderung beralih ke asset aman saat membaca tarif Amerika Serikat (AS) sebagai sumber volatilitas kebijakan.

Selain itu, ia mengatakan, investor juga akan membaca kebjikan tarif AS bukan sekedar Proteksionisme, namun sebagai volatilitas kebijakan (policy uncertainty). Ketika aturan perdagangan bisa berubah dalam waktu singkat, proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, serta arus logistik menjadi sulit diprediksi.

Baca Juga:Jelang Lebaran, Bapanas Perketat Pengawasan Harga dan Distribusi PanganTingkatkan Ekonomi, Perhutanan Sosial Jadi Instrumen Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Iklim

“Karena itu, investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS, sementara asset emerging market dianggap lebih bersiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah,” ujar Rizal dikutip dari ANTARA, Selasa (23/2/2026).

Ia menjelaskan, gejolak tarif AS terutama bekerja melalui kanal risk sentiment global, bukan langsung melalui perdagangan barang

“Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur di asset negara berkembang (risk-off),” ujar Rizal.

Maka, untuk Indonesia dampaknya berupa aurs keluar portofolio jangka pendek dari obligasi dan saham, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada likuiditas pasar.

“Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil,” ujar Rizal.

Ia melanjutkan, tekanan paling cepat biasanya terjadi pada rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar global dan arus modal.

Penguatan dolar AS dan capital outflow berpotensi membuat rupiah melemah sementara, sedangkan IHSG cenderung bergerak volatil dengan sektor komoditas relatif lebih bertahan disbanding sektor manufaktur dan perbankan.

Baca Juga:KAI Bidik Pasar Wisata di Pulau Jawa, Siapkan Kereta Konsep Experience dan HeritageKementerian Perhubungan Fokus Keselamatan dan Infrastruktur, Anggaran 2026 Disesuaikan Jadi Rp27,13 Triliun

“Namun siftanya masih sentiment driven, sehingga arah pasar akan sangat tergantung stabilitas global beberapa hari ke depan, bukan semata faktor domestik,” ujar Rizal.

Rizal mengungkapkan investor akan menunggu tiga hal utama, di antaranya arah kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS, respons kebijakan Bank Indonesia (stabilitas rupiah dan likuiditas), serta kepastian dan kejelasan implementasi tarif AS terhadap negara mitra termasuk Indonesia.

0 Komentar