JABAR EKSPRES – Program ribuan pelatihan kerja dan kewirausahaan yang disiapkan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung sepanjang 2026 mendapat beragam respons dari warga dan pencari kerja.
Di satu sisi, program ini dinilai membuka peluang peningkatan keterampilan dan kemandirian ekonomi. Namun di sisi lain, sebagian pencari kerja mempertanyakan sejauh mana pelatihan tersebut benar-benar berujung pada pekerjaan atau usaha yang berkelanjutan.
Bagi sebagian warga, pelatihan Disnaker dianggap sebagai kesempatan penting di tengah ketatnya persaingan kerja di Kota Bandung. Rizky (24), pencari kerja asal Kecamatan Antapani, mengaku terbantu dengan adanya pelatihan gratis yang disediakan pemerintah.
Baca Juga:Pengamat Sebut Pelatihan Disnaker Bandung Harus Diikuti Penempatan Kerja NyataDisnaker Kota Bandung Siapkan Ribuan Pelatihan Kerja dan Wirausaha Sepanjang 2026
“Pelatihan seperti barista atau digital marketing itu lumayan relevan. Daripada nganggur, setidaknya bisa nambah skill dan sertifikat,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, Selasa (3/2/2026).
Hal senada disampaikan Wulan (32), warga Cicadas yang tertarik mengikuti pelatihan kewirausahaan. Menurutnya, pelatihan menjadi pintu awal bagi warga yang ingin mencoba usaha mandiri namun minim modal dan pengetahuan.
“Kalau mau buka usaha kecil, pelatihan itu penting. Minimal kita tahu dasar-dasarnya dulu, tidak asal coba,” katanya.
Namun demikian, tidak sedikit pencari kerja yang menyampaikan catatan kritis. Ahmad (27), lulusan perguruan tinggi yang telah beberapa kali mengikuti pelatihan serupa, menilai program pelatihan belum sepenuhnya menjawab persoalan utama pengangguran.
“Pelatihan banyak, tapi setelah itu ya dilepas. Tidak semua peserta langsung dapat kerja atau pendampingan usaha. Kadang cuma berhenti di sertifikat,” ungkapnya.
Ia menilai, tantangan utama bukan hanya pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada ketersediaan lapangan kerja dan penyaluran tenaga kerja secara konkret. Tanpa jembatan yang kuat ke dunia usaha dan industri, pelatihan dikhawatirkan hanya menjadi kegiatan jangka pendek.
Kritik serupa disampaikan oleh Siti (35), warga Kiaracondong yang pernah mengikuti pelatihan kewirausahaan. Menurutnya, pelatihan perlu dibarengi dukungan lanjutan agar benar-benar berdampak.
Baca Juga:Tingkatkan Keterampilan Warga Usia Produktif, Pelatihan Menjahit Garmen Digelar di PamulihanBantu Akses Pembiayaan hingga Pelatihan, Pemerintah Sebut Ini Upaya Dukung Kemandirian Ekonomi Disabilitas
“Setelah pelatihan, seharusnya ada pendampingan, akses permodalan, atau dibantu pemasarannya. Kalau tidak, banyak yang berhenti di tengah jalan,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagian warga menilai pelatihan kewirausahaan memang tidak bisa langsung diukur dari seberapa banyak peserta yang langsung sukses. Menurut Deni (40), pelaku UMKM di Bandung Timur, pelatihan tetap penting sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia.
