Adapun tren minat warga Cimahi untuk bekerja ke luar negeri pada 2024–2025 cenderung stabil. Dorongan utama berasal dari selisih upah dan terbukanya peluang kerja sektor formal.
Negara tujuan favorit masih didominasi Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan, melalui skema Specified Skilled Workers (SSW) dan government to government (G-to-G).
Di Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura tetap diminati, khususnya sektor domestik dan manufaktur. Sementara di Eropa, mulai muncul ketertarikan ke negara-negara seperti Polandia dan Rumania untuk sektor perkebunan dan pabrik.
Baca Juga:Seleksi Kompetensi dan Wawancara jadi Tahap Penentu Pengisian Inspektur Kota CimahiDampak Tata Ruang dan Limpasan Air Hujan, Ini Penyebab Banjir Berulang di Cimahi
Untuk mencegah purna PMI kembali berangkat secara ilegal, Disnaker Cimahi menyiapkan program Migrasi Produktif. Program ini mencakup pelatihan kewirausahaan, pengelolaan keuangan, hingga upskilling agar purna PMI memiliki sertifikasi keahlian yang relevan dengan pasar kerja lokal.
“Kami juga memfasilitasi akses permodalan, seperti KUR, agar remitansi bisa menjadi modal usaha, bukan habis untuk konsumsi,” tandas Andri. (Mong)
