GALA DINNER ASIA AFRICA 2026 – Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue

KAA
Semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 kembali dihidupkan melalui penyelenggaraan Gala Dinner Asia Africa Festival (AAF) 2026 bertajuk Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 kembali dihidupkan melalui penyelenggaraan Gala Dinner Asia Africa Festival (AAF) 2026 bertajuk “Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue”, sebuah forum diplomasi yang menjadikan kopi sebagai medium dialog, kolaborasi, dan penguatan hubungan antarbangsa di kawasan Global South.

Mengangkat tema “From Origins to Dialogue”, gala dinner ini merefleksikan kembali semangat Bandung Spirit yang lahir pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Tujuh puluh satu tahun lalu, para pemimpin negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung dengan semangat membangun dunia yang lebih setara melalui solidaritas dan kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation). Semangat tersebut kini diterjemahkan ke dalam konteks yang lebih relevan melalui diplomasi berbasis komoditas yang menjadi identitas bersama banyak negara berkembang.

Gagasan Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue diinisiasi oleh penyelenggara (event organizer) sekaligus lembaga riset di belakangnya, yaitu Gamma Metrics. Dalam kajiannya, Gamma Metrics mengidentifikasi adanya relasi yang erat antar negara-negara di Asia-Afrika dalam konteks komoditas kopi.

Baca Juga:BGN Gandeng Kejagung Untuk Perkuat Pengawasan Program MBGKepala BGN Tegaskan Tidak Ada Lagi Rapat Rahasia Terkait Program MBG

Berdasarkan hasil kajiannya, beberapa negara di Benua Asia dan Benua Afrika berpeluang menjadi produsen utama kopi dunia dengan pasar utama yaitu negara-negara di Benua Amerika dan Eropa. Potensi tersebut tercermin dari nilai ekspor komoditas kopi dari Benua Asia yang mencapai 2.550 ribu ton dengan valuasi nilai ekspor mencapai USD$ 6,45 miliar. Sedangkan nilai ekspor komoditas kopi dari Benua Afrika mencapai 2.008 ribu ton dengan valuasi nilai ekspor mencapai USD$5,71 miliar.

Berdasarkan kajian yang sama, Gamma Metrics memproyeksi benua tujuan impor kopi utama yaitu Benua Eropa dengan total impor kepada seluruh negara di Benua Eropa mencapai 4.750 ribu ton dengan valuasi pasar impor mencapai USD$24,70 miliar.

Bergerak lebih mendalam menjangkau alasan filosofis, kopi dipilih bukan semata sebagai minuman, melainkan sebagai simbol perjalanan sejarah, perdagangan, budaya, hingga kolaborasi lintas benua. Negara-negara Asia dan Afrika selama ini dikenal sebagai produsen utama kopi dunia, khususnya jenis robusta, sekaligus menjadi bagian penting dalam rantai pasok kopi global. Melalui diplomasi kopi, Kota Bandung ingin memperlihatkan bahwa komoditas yang selama ini menjadi penghubung sejarah dapat berkembang menjadi jembatan baru untuk membangun perdagangan, investasi, inovasi, pertukaran budaya, serta kerja sama antar pemerintah daerah.

0 Komentar