Dibawah Bayang-bayang Kasus Pelecehan Pesantren, Kemenag Cimahi Bicara Soal Ini

Bandung Barat Darurat Predator Anak, Dua Kasus Besar Terungkap dalam Waktu Berdekatan
Ilustrasi: korban pelecehan kerap mendapatkan intimidasi dari pelaku. Dok Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sorotan publik terhadap lingkungan pesantren kembali mengemuka, seiring maraknya pemberitaan dan perbincangan viral di media sosial terkait sejumlah kasus pelecehan yang melibatkan oknum di berbagai daerah.

Isu ini tidak hanya mengguncang kepercayaan masyarakat, tetapi juga menuntut kehadiran negara untuk memastikan ruang pendidikan keagamaan tetap aman, bermartabat, dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Di tengah maraknya perbincangan dan viralnya isu serupa di media sosial yang terjadi di sejumlah daerah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cimahi, Hj. Baiq Raehanun Ratnasari, menegaskan bahwa hingga kini belum ditemukan kejadian sejenis di wilayah Kota Cimahi.

Baca Juga:Pemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov JabarRelawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban Bencana

“Insyaallah enggak ada kalau di Cimahi. Insyaallah enggak ada,” ujarnya tegas saat dikonfirmasi, Senin (5/1/26).

Meski demikian, ia menyadari bahwa kasus-kasus yang muncul di luar Cimahi menjadi peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, Kemenag Cimahi, menurutnya, tidak bersikap pasif.

Ia menambahkan, langkah mitigasi tersebut berjalan seiring dengan upaya pencegahan agar tidak terjadi pelecehan dalam lingkungan pesantren.

“Dan juga kita terkait dengan supaya tidak ada pelecehan apa segala macam ya, kita sering melakukan pengawasan dan pembinaan kepada pondok-pondok pesantren,” ujarnya.

Pengawasan itu mencakup berbagai aspek, mulai dari proses pendidikan, relasi antara pengasuh dan santri, hingga kelayakan fasilitas penunjang. Dalam konteks dukungan negara, Kemenag Cimahi juga menyalurkan bantuan kepada pesantren, meskipun detailnya belum seluruhnya diingat oleh yang bersangkutan.

Pengawasan dan pembinaan terhadap pondok pesantren, kata dia, dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada aspek pendidikan, tetapi juga pada kondisi sarana prasarana dan tata kelola lembaga.

“Ya terkait dengan kondisi itu kita kan, dan ada gedung-gedung juga ya yang runtuh apa segala macam kan. Nah itu kita sudah mendata, kita sudah mendata kita melakukan apa sih, mitigasi, melakukan mitigasi terhadap gedung-gedung tersebut,” bebernya.

Baca Juga:De Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC20 Delegasi Internasional Hadir di Bandung, JCI Dorong Kolaborasi Bisnis Berkelanjutan

Di Kota Cimahi sendiri, jumlah pondok pesantren mencapai sekitar 39 lembaga aktif. Awalnya tercatat sekitar 40 pesantren, namun satu di antaranya dibekukan karena tidak lagi beroperasi.

“Iya seperti kemarin kita ada bantuan ke pondok pesantren, ya bantuan-bantuan ke pondok pesantren itu,” ujarnya.

0 Komentar