Dinilai Bisa Jadi Aset Ekonomi Hijau, DTI akan Tingkatkan Kebun Teh Rakyat 

Dinilai Bisa Jadi Aset Ekonomi Hijau, DTI akan Tingkatkan Kebun Teh Rakyat 
Ilustrasi kebun teh rakyat yang memiliki aset ekonomi. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dewan Teh Indonesia (DTI) menilai kebun teh rakyat memiliki peran strategis tidak hanya sebagai sumber produksi, tetapi juga sebagai aset ekonomi hijau yang menopang kelestarian lingkungan.

Upaya peningkatan nilai ekonomi kebun teh dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor ini sekaligus mencegah kerusakan ekologi di wilayah hulu.

Ketua Umum DTI, Iriana Ekasari, mengatakan kebun teh yang tidak dirawat dengan baik bukan hanya berdampak pada penurunan produksi, tetapi juga berpotensi memicu bencana ekologi di wilayah hulu.

Baca Juga:Kementan Pastikan Pasokan Daging Sapi Aman, Peternak Terlindungi Jelang Akhir Tahun14,6 Juta UMKM Transformasi ke Sektor Formal, Serap Jutaan Tenaga Kerja 

“Kebun teh itu bukan sekadar aset produksi. Ia juga benteng ekologi. Kalau kebun dibiarkan tua dan tidak dirawat, risikonya bukan hanya produksi turun, tapi juga kerusakan lingkungan,” kata Iriana, dikutip dari ANTARA, Jumat (19/12).

Sebagian besar kebun teh milik petani rakyat kini menghadapi persoalan struktural, tanaman sudah berusia tua tidak diremajakan, pemiliharaan minim dan dukungan ekonomi yang terbatas membuat produktivitas terus menurun.

Padahal, Iriana mengatakan, hamparan kebun teh berfungsi menjaga tata air, mencegah erosi, dan menopang keseimbangan ekosistem pegunungan. Jika kebun teh rusak, yang terjadi bukan hanya krisis produksi, tapi potensi bencana ekologis seperti longsor dan degradasi tanah.

Meski produktivitas teh Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara produsen lain, DTI menilai teh nasional memiliki keunggulan dari sisi kualitas dan nilai. Tantangannya adalah meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan karakter dan nilai tersebut.

“Produktivitas kita memang rendah, tapi kita punya value. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan produktivitas yang lebih baik tanpa mengorbankan nilai itu,” katanya.

Menurut Iriana, pendekatan pembangunan industri teh tidak bisa hanya berorientasi pada volume produksi, sebaliknya nilai ekonomi harus berjalan seiring dengan nilai ekologis.

Maka, penting sekali untuk melihat kebun teh sebagai aset multifungsi, bukan hanya penghasil daun teh juga penyedia jasa lingkungan.

Baca Juga:Dongkrak Ekonomi Warga, Pemkab Cianjur Siapkan Sentra Kuliner dan Oleh-oleh di Gunung Padang Kemenhub Perkuat Pengawasan Penerbangan Jelang Nataru, Siap Hadapi Lonjakan Penumpang

Untuk peluang sendiri, dari aspek nilai ekologi dan perdagangan karbon hamparan perkebunan teh yang mencapai ribuan hektare sejatinya menyimpan potensi serapan karbon yang signifikan, namun hingga kini asset tersebut belum sepenuhnya terlihat dan dimanfaatkan.

0 Komentar