JABAR EKSPRES– Kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi perlu ditanamkan sejak dini. Tidak hanya memahami potensi risiko, siswa juga perlu dibekali pengetahuan praktis mengenai langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi relawan Rapid Indonesia, Semut Tangsel, IEA Tangsel dan Orki yang menggelar edukasi mitigasi bencana gempa bumi di PKBM Binar Tangsel, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB itu digelar di PKBM Binar, Jl. Sumatra No.1A, Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan. Para siswa dan pengajar mengikuti kegiatan dengan antusias.
Baca Juga:35 Tahun Len, Dorong Kemandirian Teknologi Pertahanan Indonesia dari Riset hingga IndustrialisasiWabup Dorong SOR Mangunreja Berstandar FIFA, Bidik Homebase Persitas
Kolaborasi tersebut melibatkan Riko Hardiansyah selaku Coordinator of Relation Development RAPID Indonesia, Suhery dan Pasha dari Semut Tangsel, Rizal dan Deril dari IEA Tangsel, serta Siti Julaeha dari Orki.
Edukasi tidak hanya memberikan pemahaman mengenai potensi bahaya gempa, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan praktis untuk menghadapi kondisi darurat.
Salah satu materi utama yang diberikan yakni penanganan pertama medis serta pemahaman mengenai alur evakuasi mandiri yang aman ketika bencana gempa bumi terjadi.
“Kesiapsiagaan itu harus dibangun sebelum bencana terjadi. Ketika gempa datang, kita tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Karena itu, pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukan evakuasi, dan bagaimana memberikan pertolongan pertama menjadi sangat penting,” ujar Riko Hardiansyah.
Menurutnya, edukasi kebencanaan di lingkungan pendidikan menjadi langkah penting karena siswa dan tenaga pendidik merupakan bagian dari kelompok yang perlu memiliki kemampuan dasar menghadapi situasi darurat.
“Kami ingin edukasi ini tidak berhenti pada teori. Peserta bisa memahami secara langsung melalui simulasi sehingga ketika menghadapi kondisi sebenarnya, mereka sudah memiliki gambaran tindakan yang harus dilakukan,” katanya.
Hal senada disampaikan dalam kegiatan kolaboratif tersebut yang menekankan pentingnya mengurangi kepanikan saat bencana. Melalui simulasi dan materi interaktif, peserta diajak memahami bagaimana menyelamatkan diri, mengenali kondisi sekitar, hingga mengikuti jalur evakuasi dengan aman.
Baca Juga:Relation Business Perkuat Peran Listrik Dorong Ekonomi DaerahPengamat: PLN Dinilai Kunci Transisi Energi Industri
Kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada datangnya bantuan dari pihak luar. Masyarakat, termasuk siswa dan pengajar, perlu memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan awal secara mandiri.
