Pesona Cibuntu, Tambang Pasir yang Menjelma jadi Ladang Wisata dan Cuan di Kaki Gunung Ciremai

JERNIH : Sejumlah wisatawan beraktivitas di Kolam Renang di area Desa Wisata Cibuntu Kuningan. (Hendrik)
JERNIH : Sejumlah wisatawan beraktivitas di Kolam Renang di area Desa Wisata Cibuntu Kuningan. (Hendrik)
0 Komentar

Mulyana menegaskan, langkah untuk menjadikan Cibuntu sebagai Desa Wisata itu juga bukan hanya dilakukan segelintir orang. Tapi seluruh warga kompak dan bersepakat untuk mensukseskan mimpi itu. Kuncinya adalah musyawarah. Pertemuan dengan warga dilakukan beberapa kali, hingga warga sepakat dan kompak.

Warga selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait pengembangan desa itu. Mulai dari perencanaan awal, hingga berbagi peran dalam pembentukan desa wisata. “Kami selalu musyawarah, warga dilibatkan. Makanya kompak,” jelasnya.

Pesona Kearifan Lokal laksana Harta Karun Terpendam

Desa Cibuntu menyimpan sejumlah potensi lokal yang memikat. Namun itu terkubur berabad-abad. Baru saat misi membangun desa wisata dicanangkan, satu persatu “harta karun” itu terungkap.

Baca Juga:Konser “The Journey Continues by Aloka", Peterpan Berhasil Bawa Euforia Generasi ke GenerasiGubernur Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Pemimpin Percepatan Ekonomi Daerah

Pertama yang mempesona tentunya adalah keindahan alam pedesaan yang asri. Desa Cibuntu ada di 593 mdpl dan di kaki Gunung Ciremai. Sawah dan pepohonan yang hijau membentang menjadi panorama indah desa itu. Ditambah megahnya Gunung Ciremai yang menjadi latar belakang. Udaranya juga sejuk dan segar.

Mulyawan menuturkan, kala itu warga memang gotong-royong untuk “babat alas” mencari dan menata sejumlah potensi wisata di desanya. “Kami telusuri hutan, mencari mata air, curug. Sumbernya dari cerita-cerita warga, para orang tua,” katanya.

Salah satu yang ditemukan adalah Curug Gongseng. Yakni air terjun dengan ketinggian sekitar 20 meter. Airnya jernih karena mengalir langsung dari mata air. Struktur bebatuan yang terbentuk alami dari aliran air juga menambah pesona air terjun itu.

Kemudian ada juga Mata Air Kahuripan. Airnya jernih bahkan bisa langsung diminum. “Dulu itu kawasan ini (mata air.red) terutup semak dan pepohonan,” kata Mulyawan.

Kini warga juga telah menata Kawasan Mata Air Kahuripan dan Curug Gongseng tersebut. Sehingga mudah diakses wisatawan.

Warga membangun jalan setapak menghubungkan dua situs tersebut. Kanan kirinya ditanami rumpun bambu. Bambu-bambu itu tumbuh lebat menjadi payung alami wisatawan. Area itu kini juga jadi ikon tersendiri, jadi tempat napak tilas di bawah rindangnya hutan bambu.

0 Komentar