Pesona Cibuntu, Tambang Pasir yang Menjelma jadi Ladang Wisata dan Cuan di Kaki Gunung Ciremai

JERNIH : Sejumlah wisatawan beraktivitas di Kolam Renang di area Desa Wisata Cibuntu Kuningan. (Hendrik)
JERNIH : Sejumlah wisatawan beraktivitas di Kolam Renang di area Desa Wisata Cibuntu Kuningan. (Hendrik)
0 Komentar

Pesona yang digali tentang Desa Cibuntu bukan hanya pemandangan dan situs alamnya, tapi juga soal potensi seni budayanya. Salah satu yang dihidupkan lagi adalah tradisi Sedekah Bumi. Tradisi itu sempat vakum selama hampir 40 tahun karena alasan syirik. “Ini kami hidupkan lagi, tapi disesuaikan dengan zaman. Beberapa unsur syirik dihilangkan,” cetusnya.

Event itu dilaksanakan tiap tahun. Biasanya setiap Bulan Oktober. Event itu selalu jadi puncak kunjungan wisata ke Desa Cibuntu.

Lalu yang tak kalah penting adalah soal kultur masyarakat. Yakni karakter warga yang ramah dan bersih. “Kami ramah memang sudah dari dulu, bersih juga dari dulu. Ternyata itu malah jadi ikon menarik bagi wisatawan,” tutur Mulyawan.

Sulap Lahan Bekas Galian Pasir jadi Arena Wisata Keluarga

Baca Juga:Konser “The Journey Continues by Aloka", Peterpan Berhasil Bawa Euforia Generasi ke GenerasiGubernur Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Pemimpin Percepatan Ekonomi Daerah

Secara resmi soft launching Desa Wisata Cibuntu dilakukan pada Februari 2012. Dan kemudian dideklarasikan resmi oleh Bupati Kuningan pada Desember 2012.

Namun pengembangan desa wisata tak berhenti. Salah satu langkah besarnya adalah menyulap lahan bekas galian pasir di desa itu menjadi arena wisata. Sebuah langkah yang cukup berani.

Mantan Kuwu (Kepala Desa) Cibuntu Awam menceritakan, galian pasir itu telah puluhan tahun mengeruk material di desanya. Buntutnya tidak hanya ekosistem alam yang rusak karena dikeruk. Tapi jalan desa juga ikut rusak karena sering dilalui truk muatan pasir. “Alam rusak, jalan hancur. Karena puluhan truk lalu lalang setiap hari angkut pasir,” cerita Kuwu yang memimpin sampai 3 periode itu.

Mantan Nahkoda Desa Cibuntu 20 tahun itu melanjutkan, di 2003 ia diminta pulang merantau untuk menjadi Kuwu. Dan setelah memimpin, salah satu kebijakannya adalah menutup galian pasir di desanya itu.

Sikap tegas itu mendapat respon positif warga. Sehingga walaupun beberapa kali mendapat intervensi dari pengusaha galian pasir, kebijakan itu tak dirubah.

Sekitar 4 hektar lahan bekas galian C itu kemudian dibangun menjadi objek wisata. Dan kini menjadi ikon rujukan wisatawan dan pusat kegiatan warga.

Tempat itu telah berubah 180 derajat. Tempatnya asri penuh pepohonan. Ada area lapang yang cukup luas dengan rumput yang terawat dan tumbuh rapi. Area itu cocok untuk camping. Atau sekedar tiduran di bawah rindangnya pepohonan.

0 Komentar