Di homestay itu biasanya warga juga menyediakan fasilitas lengkap. Termasuk menu makanan. “Makin banyak wisatawan maka makin banyak juga yang menginap ke homestay. Pendapatan warga juga terus bertambah,” katanya.
Adang melanjutkan, meski statusnya homestay tapi warga juga berupaya memberikan layanan prima. Bahkan salah satu homestay di desa itu juga telah mendapat penghargaan tingkat ASEAN.
Adang menuturkan, tanggung jawab pengelolaan Desa Wisata Cibuntu ini awalnya di tangan Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompokpar). Wadah yang berisi warga dan pengurus desa yang bertanggung jawab atas pengelolaan Desa Wisata.
Baca Juga:Konser “The Journey Continues by Aloka", Peterpan Berhasil Bawa Euforia Generasi ke GenerasiGubernur Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Pemimpin Percepatan Ekonomi Daerah
Namun sejak 2022, pengelolaan Desa Wisata beralih ke BUMDes. Tata kelola juga terus dikembangkan dan diperbaiki. Karena dikelola badan usaha resmi, pundi-pundi rupiah juga bisa masuk ke kas desa. “Pernah itu kami setor ke kas desa sampai Rp 70 juta dalam setahun,” katanya.
Pundi-pundi itu terkumpul dari beberapa fasilitas dan jasa yang tersedia di Desa Cibuntu yang dikelola BUMDes secara profesional. Misalnya tiket masuk kawasan wisata hingga parkir. Tiket masuk di harga Rp 10 ribu, tapi jika ingin sepaket dengan wahana renang di harga Rp 25 ribu per orang.
Pengelola juga telah menyediakan paket-paket wisata. Itu untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung. Misalnya paket masuk area wisata, makan, dan homestay. “Kami juga siap antar jemput wisatawan. Biasanya kalau ada rombongan yang bawa Bus, kami kawal sejak ujung desa,” sambung Adang.
Berdayakan Pemuda, Tekan Pengangguran
Efek domino Desa Wisata itu tidak hanya memutar roda ekonomi, tapi juga mampu menekan pengangguran. BUMDes Cibuntu banyak merekrut muda-mudi desa untuk menjadi karyawan. Total ada 25 karyawan yang terlibat mengelola Desa Wisata itu. Mereka semua adalah warga asli Cibuntu yang bekerja dan digaji secara profesional.
“Kami gaji profesional dan bisa dibilang cukup untuk setara kerja di Kuningan. Tapi semangatnya adalah ikut membangun desa juga,” sambung Adang.
Adang menjelaskan, selain bekerja, kemampuan para karyawan itu juga terus dipoles. Pihaknya banyak berkolaborasi dengan berbagai stakeholder. Salah satunya untuk pelatihan bagi para karyawan. “Dilatih manajemen bisnis hingga digital marketing,” katanya.
