JABAR EKSPRES – Kasus keracunan massal akibat konsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), berangsur reda.
Hingga Rabu (15/10/2025) sore, jumlah korban mencapai 449 orang, dengan 54 di antaranya masih menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Koordinator Posko SMP Negeri 1 Cisarua, Aep Kunaefi, mengatakan kondisi di posko utama kini mulai kondusif setelah sejak pagi dipadati korban yang mengalami gejala seperti mual, muntah, dan pusing.
Baca Juga:Andri Gunawan Kecam Tayangan TV yang Diduga Lecehkan Pesantren dan Ulama: Ini Krisis KebudayaanPangkas Dana Transfer Daerah, Pakar Unpad Peringatkan Potensi Ketimpangan
“Posko di sini sudah mulai reda kedatangan yang terdampak. Sebagian besar korban sudah mendapat penanganan cepat dari tim medis dan kondisinya membaik,” ujar Aep saat ditemui di SMPN 1 Cisarua.
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana di lingkungan sekolah mulai normal. Kelas yang sebelumnya dijadikan ruang perawatan kini tampak kosong. Beberapa ambulans yang sejak pagi berjaga di halaman sekolah pun mulai berkurang, sementara guru dan petugas kesehatan masih bersiaga di posko hingga ada perintah penutupan.
“Kami tetap siaga sampai ada keputusan resmi dari pihak dinas. Tapi kalau melihat situasi, kemungkinan posko akan ditutup malam ini karena sudah tidak ada tambahan pasien baru,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail memastikan seluruh korban keracunan mendapat penanganan optimal. Ia menyebut kondisi para siswa menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“Angka kesembuhan para siswa meningkat cukup baik. Dari total 449 korban, saat ini hanya tersisa 54 yang masih dirawat di beberapa fasilitas kesehatan, dan sebagian besar dalam kondisi stabil,” kata Jeje melalui keterangan resminya.
Jeje menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menugaskan Dinas Kesehatan untuk menelusuri penyebab pasti keracunan, termasuk mengambil sampel makanan dari dapur penyedia MBG di wilayah Panyandaan, Desa Jambudipa, yang menjadi sumber distribusi makanan.
“Kami ingin memastikan penyebabnya diketahui secara pasti agar kejadian seperti ini tidak terulang. Program MBG ini sangat baik untuk peningkatan gizi anak sekolah, tetapi pengawasan dan standar higienitasnya harus benar-benar dijaga,” tegasnya.
Baca Juga:Yayasan Kasih Palestina Siap Bangun Kembali Masjid Istiqlal Indonesia di GazaBabatuRun 2025: Saat Lari Jadi Bahasa Kebaikan di Kota Bandung
Menurut Jeje, pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur MBG, mulai dari sistem penyimpanan bahan makanan, proses distribusi, hingga mekanisme kontrol di tingkat sekolah. Ia juga tidak menutup kemungkinan pemberian sanksi bagi pihak yang terbukti lalai.
