JABAR EKSPRES – Sebanyak 120 siswa SDN Girimukti di Kampung Rajamandala, Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa belajar secara bergiliran setelah satu ruang kelas rusak berat.
Kerusakan tersebut membuat ruang belajar tidak lagi layak digunakan sehingga sekolah harus menerapkan sistem pembelajaran bergantian. Kondisi itu terjadi di tengah minimnya fasilitas sekolah yang juga mengalami kerusakan, mulai dari ruang kelas, toilet siswa, hingga halaman sekolah yang belum memadai.
Anggota Komite SDN Girimukti, Sukma Mulyana, mengatakan keterbatasan ruang belajar membuat sekolah tidak memiliki pilihan selain menerapkan sistem belajar bergiliran agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Baca Juga:Sekolah Rusak akan Diperbaiki, Pemerintah Targetkan Lingkungan Belajar Aman dan NyamanLedakan Gedung Padel di Gunung Putri Rusak Sekolah, KBM SDN Ciangsana 03 Diliburkan Dua Hari
“Ruang kelas yang rusak sebelumnya digunakan oleh siswa kelas I dan II. Sekarang mereka harus dipindahkan ke ruang lain dan belajar secara bergiliran karena ruang yang tersedia tidak mencukupi,” kata Sukma, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, dari enam ruang kelas yang dimiliki sekolah, satu ruang mengalami kerusakan berat dengan sebagian bangunan sudah roboh sehingga tidak lagi digunakan. Sementara lima ruang lainnya juga mengalami kerusakan, mulai dari plafon berlubang, dinding retak hingga lantai yang mulai rusak.
Ia menuturkan, kondisi tersebut turut memengaruhi pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Meski kegiatan belajar tidak berlangsung hingga sore hari, pengaturan jadwal belajar secara bergiliran membuat proses pembelajaran kurang optimal.
“Bukan hanya ruang kelas, seluruh empat unit toilet (MCK) siswa juga mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan. Akibatnya, siswa harus menggunakan MCK umum di masjid maupun pondok pesantren yang berada di luar lingkungan sekolah,” katanya.
“Sementara guru dan tenaga kependidikan hanya memiliki satu toilet yang kondisinya juga mulai mengalami kerusakan,” sambungnya.
Sukma mengungkapkan pihak sekolah berulang kali mengajukan proposal rehabilitasi kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Namun, hingga kini usulan tersebut belum juga terealisasi. Perbaikan terakhir dilakukan pada 2018, tetapi bangunan yang saat itu diperbaiki kini kembali mengalami kerusakan.
Harapan sempat muncul pada 2026 saat SDN Girimukti masuk dalam daftar calon penerima bantuan rehabilitasi. Namun pada akhirnya sekolah tersebut tidak memperoleh alokasi anggaran, sementara dua sekolah lain tetap mendapatkan bantuan.
