Kepanikan pun tak terelakkan. Dua puskesmas dan ambulans desa dikerahkan untuk mengevakuasi korban. Petugas Puskesmas Pamarican, Ase Cepi, mengonfirmasi setidaknya 14 siswa ditangani dengan gejala lemas, mual, dan sakit perut. “Kami langsung melakukan penanganan medis, ada yang sampai dipasang infus juga,” katanya.
Abdul Aziz, seorang guru, menyebut ada sekitar 400 ‘ompreng’ MBG yang telah dibagikan, meski laporan gejala awalnya hanya terpusat di satu kelas.
Belum reda duka di Ciamis, Kota Banjar diguncang insiden serupa, bahkan dengan skala yang lebih besar. Di SMPN 3 Banjar, puluhan siswa secara bergantian mengeluhkan sesak napas, pusing, dan mual usai menyantap MBG.
Baca Juga:Penuhi SLHS, Dinkes Ciamis Gelar Pelatihan bagi Dapur MBGBuntut KLB Keracunan di Garut, Legislator Dorong Evaluasi Program MBG
Suasana mencekam terjadi di bawah guyuran hujan. Kurang lebih 20 ambulans dikerahkan dalam proses evakuasi yang dramatis. Wakil Wali Kota Banjar, H. Supriana, yang langsung meninjau lokasi, menyatakan total 68 siswa harus dilarikan ke tiga rumah sakit: RSUD Banjar, RS PMC, dan RS Mitra Idaman.
“Siswa mulai memakan menu MBG itu sekitar pukul 11.30 WIB. Dan sesaat setelah itu, mereka mulai mengeluhkan kondisi mual, sesak napas,” papar Diandini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Banjar.
Sekolah tersebut menerima sekitar 854 porsi makanan. Meski tidak ada yang sampai pingsan, gejala sesak napas yang dialami banyak siswa menimbulkan kekhawatiran serius. Plh. Kepala Disdikbud Kota Banjar, Adeng Hendrawan, membenarkan insiden tersebut dan mengatakan proses evakuasi sempat berlangsung dengan sigap.
Di balik kedua tragedi ini, tersembunyi sebuah fakta mencengangkan yang seharusnya menjadi alarm peringatan dini. Jauh sebelum insiden keracunan di SMPN 3 Banjar terjadi, Pemerintah Kota Banjar sebenarnya telah menyadari adanya titik lemah yang krusial. Dari seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG yang beroperasi di Kota Banjar, ternyata belum satu pun yang telah mengantongi Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, Saifuddin, menjelaskan bahwa meski belum ada yang memiliki SLHS, seluruh Dapur MBG sedang dalam proses mengurusnya. “Karena untuk mendapatkan itu ada prosesnya yang harus dilalui,” ujarnya.
