JABAR EKSPRES – Suasana di aula SMAN 3 Cimahi pagi itu berbeda dari biasanya. Kursi-kursi berjejer rapi, sementara meja pemeriksaan dipenuhi alat kesehatan, tensimeter, stetoskop, hingga laptop dan tablet yang dibawa langsung oleh tenaga medis Puskesmas Cimahi Utara.
Para siswa bergiliran antre, sebagian tampak tegang, sebagian lain justru penasaran ketika jarinya ditusuk jarum untuk mengecek hemoglobin.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini menyasar semua kelompok usia, dari balita hingga lansia. Namun di SMAN 3 Cimahi, fokus utamanya adalah remaja sekolah.
Baca Juga:Sebanyak 16 Juta Penduduk Akses CKG, Kini Digeber ke PelajarPartisipasi Warga Ikut Cek Kesehatan Gratis di Jabar Masih Rendah, Kadinkes Jabar: Belum Sadar Pentingnya CKG
Bagi tenaga medis, momen ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pintu masuk untuk mendeteksi berbagai masalah kesehatan yang sering kali tak disadari para siswa.
“Ini dari usia PAUD, prasekolah, TK sampai SMA. Nah, di SMA 3 Cimahi ini yang kita lakukan adalah pemeriksaan kesehatan gratis,” jelas Ammy Amelia, Dokter Gigi Puskesmas Cimahi Utara, ketika ditemui Jabar Ekspres, Rabu (24/9/2025).
Di antara banyak pemeriksaan, kadar hemoglobin menjadi yang paling diperhatikan. Ammy menuturkan, remaja putri kerap mengalami anemia.
“Karena remaja putri itu kita siapkan untuk kehamilan, jadi kita periksa HB-nya apakah anemia atau tidak. Kita juga ada program TTD atau tablet tambah darah,” katanya.
Selain itu, keluhan telinga akibat penumpukan kotoran (serumen), penyakit kulit tertentu, hingga gangguan penglihatan seperti minus dan silindris juga sering ditemukan.
“Kelainan visus itu sekarang banyak. Karena pemakaian gadget lama, dan itu memang sulit dihindari karena kebutuhan sekolah,” ungkap Ammy.
Masalah gigi pun menjadi sorotan. Banyak siswa menderita karies atau gigi berlubang akibat kebiasaan makan manis dan kurangnya perawatan sejak dini.
Baca Juga:Kucurkan Dana Rp4,7 Triliun untuk Program CKG, Pemerintah Sebut ini Demi Menuju Indonesia Emas 2045UBK Gelar Pengmas di Desa Citaman: Edukasi Hipertensi dan Pemeriksaan Kesehatan
Tidak hanya soal fisik, persoalan mental health juga ikut muncul dalam layanan kesehatan di Puskesmas. Meski jumlah remaja dengan keluhan kesehatan jiwa masih sedikit, Ammy menekankan, gejala ini tidak boleh diabaikan.
“Memang ada pasien remaja dengan masalah kesehatan jiwa, tapi sedikit. Yang banyak itu usia 18–59 tahun. Di RW 11 Cibabat bahkan ada yayasan khusus penderita kesehatan jiwa, mereka rutin berobat ke kami. Kalau perlu perawatan lebih lanjut, biasanya kami rujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
