Ambulans Dituduh Bawa Demonstran ke Polres, Dinkes Bandung Tegas: Itu Hoaks!

Petugas kesehatan keluar dari mobil ambulans di kampus Universitas Islam Bandung, Jalan Tamansari, belum lama
Petugas kesehatan keluar dari mobil ambulans di kampus Universitas Islam Bandung, Jalan Tamansari, belum lama ini usai aksi demonstrasi. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tim medis dari Dinas Kesehatan Kota Bandung menghadapi tekanan ganda di lapangan.

Selain menangani korban aksi unjuk rasa yang berlangsung sjak akhir pekan lalu, mereka juga harus menghadapi maraknya hoaks di media sosial yang menyebut bahwa ambulans milik Dinas Kesehatan digunakan untuk membawa peserta demo ke kantor polisi.

Informasi palsu tersebut beredar luas sejak hari Minggu (31/8) dan menyebar cepat di berbagai platform, memunculkan kekhawatiran di kalangan peserta aksi dan masyarakat umum.

Baca Juga:Acil Bimbo Tutup Usia, Bandung Berduka Kehilangan Putra TerbaiknyaTokoh Agama dan Masyarakat di Jateng Serukan Kedamaian untuk Negeri 

Pesan berantai yang menyebar menyebut bahwa ambulans berpelat merah milik Dinas Kesehatan tidak membawa korban ke rumah sakit, melainkan ke kantor polisi untuk diperiksa atau ditahan.

Narasi tersebut membuat kepercayaan terhadap layanan kesehatan publik di lapangan menurun drastis.

PLT Kepala UPTD Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu Dinas Kesehatan Kota Bandung, Eka Anugrah, dengan tegas membantah informasi tersebut. Ia memastikan bahwa kabar itu hoaks, tidak berdasar, dan sangat merugikan petugas medis yang bekerja di tengah situasi genting.

“Itu hoaks, 100 persen hoaks. Ada yang menyebarkan kabar bahwa ambulans Dinas Kesehatan tidak membawa korban ke rumah sakit, tapi ke Polres. Itu sangat mengganggu kami,” ujar Eka kepada awak media, Selasa (2/9).

Eka mengungkapkan, dampak dari penyebaran hoaks ini cukup serius. Banyak anggota tim medis dari Public Safety Center (PSC) yang akhirnya memilih tidak mengenakan seragam dan tidak menggunakan ambulans berpelat merah karena khawatir menjadi sasaran kesalahpahaman atau bahkan kekerasan massa.

“Tim saya sampai tidak berani turun dengan ambulans berpelat merah. Tidak berani juga pakai seragam dinas. Mereka takut, padahal tugas kami hanya satu: menyelamatkan korban, siapa pun itu.

Tapi pelayanan tetap berjalan, meskipun dengan tekanan seperti itu,” jelasnya.

Baca Juga:Konser “Peterpan: The Journey Continues” di Bandung Ditunda, Budi Aloka: Demi Keselamatan dan Kenyamanan SemuaBandung Bersatu dalam Musik: The Journey Continues Peterpan by Aloka Tetap Berjalan dengan Aman dan Humanis

Kekhawatiran petugas medis bukan tanpa alasan. Dalam situasi demonstrasi yang rawan terjadi benturan antara massa dan aparat, keberadaan ambulans seharusnya menjadi simbol netralitas dan keselamatan.

Namun akibat hoaks tersebut, ambulans justru dicurigai dan dianggap sebagai bagian dari aparat.

“Ini sangat berbahaya. Ambulans itu simbol pertolongan. Tapi kalau sudah dicurigai dan dituduh membawa orang ke Polres, bisa-bisa nanti malah diserang atau dihalangi. Kami tidak ingin itu terjadi, karena yang akan jadi korban lagi-lagi masyarakat sendiri,” tegas Eka.

0 Komentar