JABAR EKSPRES – Rentetan gempa kecil yang dipicu aktivitas Sesar Lembang dalam beberapa pekan terakhir tak hanya menimbulkan kekhawatiran warga, tetapi juga menggerus denyut pariwisata di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sejumlah pengelola objek wisata mengaku, isu kegempaan itu berimbas langsung pada menurunnya jumlah wisatawan yang biasanya ramai berkunjung, terutama di akhir pekan.
Public Relations Floating Market Lembang, Intania Setiati, menyebut penurunan kunjungan wisatawan terasa signifikan sejak muncul isu Sesar Lembang.
Baca Juga:Ratusan Bangkai Ayam Berserakan di Lembang, Bau Busuk Ganggu Warga dan WisatawanLibur Panjang, Okupansi Hotel dan Lokasi Wisata di Lembang Naik Tajam
“Adanya gempa Sesar Lembang berpengaruh pada tingkat kunjungan wisatawan. Banyak yang khawatir dan takut datang ke Lembang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (28/8/2025).
Menurutnya, meski setiap bulan Agustus biasanya terjadi penurunan kunjungan, namun tahun ini angkanya jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Agustus ini penurunan kunjungan mencapai 20 persen dari tahun lalu. Selain isu Sesar Lembang, kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja dan adanya larangan study tour juga ikut berpengaruh,” jelas Intan.
Ia tidak menampik, isu soal Sesar Lembang bukan hal baru bagi masyarakat maupun pelaku wisata. Namun, munculnya gempa-gempa kecil secara beruntun membuat situasi semakin sensitif.
“Meski isu soal Sesar Lembang ini sudah bukan hal baru, kami tetap khawatir dan waspada, apalagi ada gempa-gempa kecil yang terjadi beruntun beberapa hari lalu,” ungkapnya.
Kondisi itu membuat sebagian wisatawan mengurungkan niat berkunjung. Padahal, kata Intan, jika situasi dinyatakan aman, wisatawan biasanya kembali berdatangan.
“Wisatawan itu sensitif dengan isu keamanan. Kalau ada berita gempa, otomatis mereka menunda perjalanan,” tambahnya.
Baca Juga:Pemkot Bandung Siapkan Kampung Bencana Antisipasi Mitigasi Sesar LembangMitigasi Lebih Penting dari Teknologi, BRIN Ingatkan Risiko Gempa Sesar Lembang
Sebagai langkah antisipasi, pihak pengelola Floating Market telah menyiapkan berbagai upaya mitigasi bencana. Mulai dari pelatihan kebencanaan bagi karyawan, penyediaan jalur evakuasi, hingga titik kumpul yang diinformasikan kepada pengunjung.
“Petunjuk ke mana harus pergi, apa yang mesti dilakukan, jalur evakuasi, dan titik kumpul selalu kami sampaikan ke wisatawan,” tegasnya.
“Langkah ini diambil agar pengunjung merasa lebih aman dan nyaman ketika berada di kawasan wisata, meski ancaman gempa tetap tak bisa diprediksi,” tandasnya. (Wit)
