JABAR EKSPRES – Suara tawa anak-anak pecah di halaman SDN Cibabat Mandiri 2, Kecamatan Cimahi Utara, Jumat (15/8/2025) pagi itu. Sejumlah siswa berlari kecil sambil menjaga keseimbangan di atas sepasang egrang bambu.
Ada yang berhasil melangkah jauh, ada pula yang terjatuh lalu bangkit lagi, tak mau kalah.
Muhmad Azis Nurhakim (11), siswa kelas VI, terlihat paling semangat. Wajahnya berkeringat, tetapi senyumnya tak pernah lepas.
Baca Juga:Prihatin Tergerus Gadget, Wagub Erwan Ingin Permainan Tradisional Dihidupkan Lagi dari SekolahDari Paciwit-Ciwit Lutung hingga Enggrang, SDN Cibabat Mandiri 2 Ajarkan Permainan Tradisional pada Siswa
“Seru. Bisa seneng-seneng, kaya kerja kelompok. Dari kecil sudah tahu permainan Sunda. Favorit saya jajangkungan, awi tapi jangkung kaya egrang. Naik terus kaya lari, kaya egrang. Semuanya senang,” ujarnya sambil mengatur napas saat disambangi Jabar Ekspres di Sekolah, Jumat.
Azis mengaku, permainan tradisional sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Jarang main HP. Main tradisional. Paling buat komunikasi aja. Gurunya lucu-lucu, senang permainan Sunda,” tambahnya.
Bagi Taufiq Ridwan, Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) sekolah tersebut menyebut, mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di era gadget bukanlah hal yang mudah.
“Kalau sekarang kan anak-anak mainnya ke gadget, ke platform, jadi tidak main yang bergerak. Jadi agak susah untuk menerangkan ke anak. Tapi setelah kami terangkan dari awal sampai akhir, Alhamdulillah anak-anak senang dan mau mencoba permainan tradisional,” ujarnya.
Prosesnya tak instan. Taufiq dan para guru biasanya memulai dengan memperlihatkan peralatan permainan, lalu memberikan contoh secara langsung.
“Sebelum bermain, kami menerangkan dulu alat-alatnya. Lalu guru mencoba terlebih dahulu sebagai contoh, kemudian anak-anak mulai mencoba,” katanya.
Terutama, sambung Taufiq, yang paling susah itu egrang. Guru pun hampir tidak ada yang bisa, namun dirinya bisa.
Baca Juga:Sanggar Mutiara Cimahi Tembus TV Nasional, Bawakan Tari Tradisional oleh Penari CilikMelihat Komunitas Hong, Pelestari Permainan Tradisional ikut Ramaikan Nganjang ka Warga di Gedung Pakuan
“Tapi untuk lari saya agak takut karena posisinya bukan di tanah. Egrang sebaiknya di tanah supaya cengkeramannya kuat,” tuturnya.
Tantangan terbesar, kata Taufiq, ada pada langkah awal. Anak-anak biasanya pertama sulit, kedua pasti luka di kaki karena harus melepas sepatu.
“Jadi sebelum ke anak, guru-guru yang bisa akan mencoba dulu. Setelah ada guru yang berhasil berjalan, anak-anak pun termotivasi untuk mencoba,” jelasnya.
