Cerita Siswa dan Guru SDN Cibabat Mandiri 2 Cimahi Lestarikan Permainan Tradisional di Tengah Gempuran Gadget

Para Guru SDN Cibabat Mandiri 2 saat Mencontohkan Permainan Tradisional Sunda pada Siswa (Mong)
Para Guru SDN Cibabat Mandiri 2 saat mencontohkan permainan tradisional Sunda pada siswa. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Ia menambahkan, siswa kelas kecil biasanya lebih berani. Karena, biasanya yang paling antusias itu kelas 1, 2, dan 3. Kelas 4, 5, dan 6 sudah mulai malu.

“Kelas kecil kalau jatuh, bangun lagi, sedangkan yang besar agak segan,” katanya.

Jenis permainan yang diperkenalkan beragam, mulai dari egrang, tarompah panjang atau bakiak, dagongan (tarik tambang menggunakan bambu sepanjang sekitar 7 meter), gatrik, hingga lompat tinggi.

Baca Juga:Prihatin Tergerus Gadget, Wagub Erwan Ingin Permainan Tradisional Dihidupkan Lagi dari SekolahDari Paciwit-Ciwit Lutung hingga Enggrang, SDN Cibabat Mandiri 2 Ajarkan Permainan Tradisional pada Siswa

Permainan ini disisipkan dalam kegiatan pramuka yang termasuk intrakurikuler, dilakukan setiap Jumat setelah jam istirahat.

Tak hanya permainan, SDN Cibabat Mandiri 2 juga menjalankan program “Kamis Nyunda” untuk menumbuhkan rasa cinta budaya daerah. Pada hari itu, siswa memakai pakaian adat Sunda dan berbahasa Sunda, meski dengan tingkatan sedang.

Bagi Taufiq, keringat dan tawa anak-anak saat bermain egrang atau bakiak adalah tanda keberhasilan kecil dalam menjaga budaya di tengah gempuran teknologi.

“Saat diberi penjelasan mereka penasaran, lalu setelah mencoba ingin mengulang lagi, walau waktunya terbatas,” ujarnya.

Di halaman sekolah, Azis dan teman-temannya kembali mencoba melangkah di atas egrang. Kali ini, ia berhasil berjalan lebih jauh.

Tawa teman-temannya menyambut, membuktikan bahwa permainan tradisional masih punya tempat di hati anak-anak asal ada yang mau memperkenalkannya. (Mong)

0 Komentar