JABAR ESKPRES – Banyak orang membeli mobil karena menganggapnya sebagai aset, atau menggunakan alasan yang mirip ketika membeli iPhone, yakni demi status sosial agar terlihat sebagai orang berada. Sebenarnya, tidak salah memiliki mobil. Namun, setelah kredit mobil selesai, belum tentu kualitas hidup meningkat secara signifikan. Yang sering terjadi justru sebaliknya, mereka terjebak dalam praktik kredit yang merugikan dan perlahan menguras keuangan tanpa disadari.
Pernahkah Anda melihat iklan mobil baru dengan uang muka (DP) ringan dan cicilan yang terlihat “hanya” beberapa ratus ribu rupiah per hari? Sekilas, angka itu terasa ringan, hanya setara harga segelas kopi di kafe. Namun, di situlah jebakan dimulai.
Inilah bagian dari budaya konsumtif yang marak di Indonesia. Membeli barang bukanlah hal yang salah, tetapi masalah muncul ketika kita mulai berlebihan, apalagi dengan kemudahan akses kredit: paylater, kartu kredit, dan cicilan instan. Akibatnya, banyak orang berani mengambil kredit untuk barang di luar kemampuan finansialnya.
Baca Juga:Bukan Karena Uang, Indonesia Miskin Karena Krisis Integritas dan KemunafikanJangan Salah Pilih Pasangan Lagi! Pahami Dulu Gaya Keterikatanmu
Fenomena ini sudah menjadi sorotan sejak 2023, khususnya di kalangan kelas menengah yang tabungannya menurun akibat biaya hidup yang terus meningkat. Anehnya, di tengah kenaikan biaya hidup, justru permintaan kredit mobil melonjak, bahkan tumbuh hingga sekitar 31%. Padahal, pada 2023 kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, dan pada 2024 mulai terlihat dampak kredit macet: dari 2,5% di Januari menjadi 2,62% pada September.
Ketika ekonomi melambat, barulah terlihat risiko tersembunyi. Banyak orang membeli mobil karena merasa bisa langsung memilikinya dengan biaya awal kecil. Mereka mengira dealer dan bank “baik” karena mempermudah pembelian. Padahal, kerja sama itu terutama menguntungkan dealer, bank, dan produsen mobil, bukan konsumen.
Fokus pembahasan ini adalah masalah perilaku konsumtif. Situasinya akan berbeda jika mobil dibeli untuk usaha atau produktivitas. Dalam setiap cicilan bulanan, terdapat bunga dan biaya tambahan yang dipaketkan. Misalnya, berdasarkan simulasi dari OLX, membeli mobil seharga Rp100 juta dengan tenor kredit 3 tahun, total pembayaran bisa mencapai Rp134 juta. Artinya, ada Rp34 juta yang sebenarnya hanya digunakan untuk membayar bunga dan biaya, bukan untuk membangun masa depan Anda.
