JABAR EKSPRES – Kepala Perusahaan Umum Bulog Cabang Cirebon Jawa Barat, Ramaijon Purba, mengungkapkan bahwa kolaborasi TNI melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) berperan besar dalam mempercepat penyerapan gabah petani, Rabu (6/8/2025).
Ramaijon menyebutkan bahwa Bulog telah menjadikan Babinsa dan PPL sebagai partner strategis untuk melakukan optimalisasi panen gabah petani. Selain itu, kerja sama juga dilakukan guna mempermudah kontrol lapangan.
Babinsa dan PPL juga berkontribusi dalam memberikan berbagai informasi penting terkait pengolahan gabah, termasuk waktu yang tepat untuk penyerapan serta kelayakan gabah untuk langsung didistribusikan
Baca Juga:Pulang Sebagai Lawan, De Gea Siap Tampil di Old Trafford Bersama FiorentinaPemerintah Berhasil Padamkan 63 Kasus Karhutla di Kalimantan Timur
“Kami dapat informasi panen tentunya dari teman-teman Babinsa dan penyuluh ini,” ujar Ramaijon, dilansir dari Antara News, Kamis (7/8/2025).
Dalam pelaksanaannya, Babinsa dan PPL selalu hadir di lapangan. Kedua pihak tersebut senantiasa membantu para petugas Bulog untuk memastikan pengolahan gabah sesuai dengan standar kualitas nasional dan optimal.
Dengan kolaborasi tersebut, Bulog telah menjanjikan petani untuk bisa menjual hasil panen gabah mereka senilai Rp6.500 per kilogram, sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP).
Hal tersebut dilakukan untuk melindungi pendapatan petani di masa panen raya. “Jadi animo petani memang luar biasa menjual gabahnya dengan harga Rp6.500 per kilogram, apalagi any quality kan? Apa adanya (gabah petani),” ujar Ramaijon.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa sistem penjemputan gabah oleh Bulog dilakukan berdasarkan sistem pemesanan H-1. Artinya, petani yang ingin gabahnya dijemput harus mendaftar paling lambat sehari sebelumnya melalui jaringan penyuluh pertanian.
Namun demikian, Ramaijon mengakui bahwa masih terdapat keterbatasan sumber daya manusia dalam proses penjemputan. Saat ini, jumlah petugas penjemput gabah hanya sekitar 50 orang, yang dirasa belum cukup ketika panen mencapai puncaknya.
“Prosesnya kan kita buat H-1. Jadi kalau yang mau dijemput hari ini, kemarin udah harus daftar ke kita melalui Babinsa dan penyuluh. Jadi kadang-kadang kita kewalahan, terlalu banyak yang mendaftar untuk kita serap, untuk kita beli dari petaninya,” paparnya.
Baca Juga:Tottenham Serius Dekati Rodrygo, Son Resmi Pecahkan Rekor Transfer MLSEkonomi Jateng Ngebut! Tumbuh 5,28 Persen, Dunia Usaha Sumringah
Dengan jumlah personel yang ada, Bulog ditargetkan menjangkau hingga 150 titik penjemputan yang mencakup wilayah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Kuningan.
