JABAR EKSPRES – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut baik pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II. Selain itu, progres tarif dagang Amerika Serikat juga bakal berdampak positif pada Indonesia.
Hal itu diungkapkan saat di Bandung, Selasa (5/8). Ia menguraikan, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan II ada di angka 5,12 persen secara y-on-y.
“Ini tergolong tertinggi dalam beberapa kuartal (triwulan.red) terakhir, ” jelasnya.
Berdasarkan laporan BPS, secara q-to-q tumbuh 4,04 persen. Kemudian untuk lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar adalah industri pengolahan dengan 18,67 persen.
Baca Juga:Layanan Commuter Line Bogor-Jakarta Terganggu Akibat Anjloknya KRL di Stasiun Jakarta Kota, KAI Sampaikan MaafPemkot Cimahi Bongkar Bangunan Liar di Bantaran Sungai, Fokus Pulihkan Fungsi Aliran Air
Sedangkan lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah sektor jasa lainya yang tumbuh 11,31 persen. Faktornya adalah peningkatan pengunjung di tempat rekreasi.
Airlangga melanjutkan, pertumbuhan ekonomi itu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia dalam kondisi baik. Saat ini pemerintah juga terus menggelontorkan beberapa program stimulus. Misalnya penyediaan kredit untuk perumahan masyarakat.
Dampak Tarif Dagang Trump
Airlangga menambahkan, saat ini Indonesia juga telah menuntaskan beberapa perjanjian dagang baru. Misalnya perjanjian dagang IU-CEPA. Termasuk kesepakatan dagang baru dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tarif resiprokal ekspor produk Indonesia ke AS turun dari 32 persen menjadi 19 persen. Dengan ketentuan 0 persen barang masuk Indonesia.
Menurut Airlangga, kesepakatan tarif dagang Trump itu jadi angin segar untuk perekonomian.
“Kalau 32 persen itu bakal ada 5 juta orang bisa kena PHK. Kalau 19 persen PHK 5 juta itu tidak ada, ” katanya.
Airlangga melanjutkan, jika tarif dagang bertahan di 32 persen maka ancaman terbesarnya adalah bakal tidak ada perdagangan ke AS. Lalu, hasil negosiasi tarif menjadi 19 persen itu juga menjadi bukti bahwa Indonesia cukup kompetitif.
Baca Juga:Pintar Cari Alasan, Polda Jabar akan Kembali Panggil Lisa Mariana atas Dugaan Kasus AsusilaRPJMD Kota Bogor 2025–2029 Resmi Disahkan
” Di ASEAN Indonesia termasuk yang kompetitif. Tarifnya sama dengan Malaysia dan Thailand. Jadi nanti tidak ada perusahaan yang pindah dari Jawa Barat, ” tutupnya. (son)
Reporter: Hendrik Muchlison
