JABAR EKSPRES – Bagaimana anak-anak menghadapi rasa tidak sabar dan kerinduan pada keluarga saat tinggal di asrama?
Pertanyaan itu menjadi perhatian utama dalam proses pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial dan ekonomi terbatas.
Wali Asuh di SRMP 8 Cimahi jadi tumpuan emosional siswa. Pendidikan adaptif bantu anak dari keluarga rentan terus belajar.
Baca Juga:Cimahi Ganti Study Tour dengan Walking Tour, Ini 5 Lokasi yang Dikunjungi SiswaJelang HUT RI ke-80, Pedagang Bendera Merah Putih di Cibinong Keluhkan Sepinya Pembeli
Menurut Humas SRMP 8 Cimahi, Retno Ika, di sekolah ini peran pendidik tidak hanya sebatas sebagai guru. Ada tiga peran penting yang mendampingi siswa sehari-hari, Wali Asuh, Wali Asrama, dan Guru.
“Wali Asuh memegang 6 sampai 7 siswa. Bukan menggantikan peran orang tua, tapi menjadi sosok yang memberi perhatian lebih selama anak berada di sekolah dan asrama,” ungkap Retno pada Jabar Ekspres, Sabtu (2/82025).
Jika siswa ingin berkomunikasi dengan orang tua, Retno menjelaslan, SRMP 8 tetap memfasilitasi kebutuhan itu meski anak-anak tidak memegang ponsel.
“Semua difasilitasi lewat Wali Asuh. Kalau ingin menelepon orang tua, bisa, tapi tetap melalui Wali Asuh,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Asrama berperan layaknya penjaga dan pelindung siswa selama 24 jam.
Mereka mendampingi siswa dari bangun tidur hingga tidur kembali. Kehadiran mereka menciptakan rasa aman dan nyaman yang penting bagi proses adaptasi anak.
Pendekatan yang dilakukan pihak sekolah lebih banyak kepada mendengarkan. Retno menegaskan, sebagian besar siswa datang dari keluarga dengan keterbatasan edukasi.
Baca Juga:Wakil Komisi III Sependapat dengan Pembentukan Superholding BUMDTragis! Seorang Pemuda 17 Tahun Meninggal Usai Ditusuk OTK di Cibiru, Diduga karena Motif Asmara
Maka, sekolah lebih membuka ruang agar anak-anak bisa mencurahkan perasaan mereka.
“Anak-anak lebih banyak curhat. Ada yang bilang, ‘Bu, aku suka ini itu’, atau ‘Pak, aku pengen ini itu’,” katanya.
Pada masa orientasi awal selama 15 hari, ada siswa yang sempat pulang ke rumah. Namun, hal itu bukan karena dipaksa.
Sekolah, sambung Retno, tetap memberi kebebasan jika siswa merasa tidak nyaman atau jika orang tua meminta anak kembali ke sekolah biasa.
“Biasanya persoalan seperti itu sudah teratasi sejak hari pertama MPLS. Kami sudah mewawancarai orang tua dan tahu betul profil siswanya,” ungkap Retno.
