Dugaan Perundungan dan Kekerasan di SMAT Krida Nusantara, Pengawasan Sekolah Dipertanyakan

Gerbang menuju SMA Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN), yang berlokasi di wilayah Desa Cipadung, Kecamatan Cibir
Gerbang menuju SMA Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN), yang berlokasi di wilayah Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dunia pendidikan kembali dihadapkan pada persoalan serius: perundungan dan kekerasan terhadap siswa. Kasus terbaru diduga terjadi di SMA Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN), sebuah sekolah berasrama penuh yang terletak di Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jabar Ekspres, sejumlah siswa baru di SMAT KN diduga mengalami tindakan perundungan, perpeloncoan, hingga kekerasan fisik selama mengikuti kegiatan Masa BASIS (Pembentukan Disiplin dan Karakter Siswa Baru) sejak Juli 2024.

Kepada Jabar Ekspres, salah satu korban dengan inisial S mengaku jika perlakuan buruk yang dialaminya itu, mulai berlangsung sejak Juli 2024 lalu, tepatnya ketika mengikuti Masa BASIS.

Baca Juga:Perluas Akses Digital di Lingkungan Kampus, Indosat Resmikan IM3 Corner di Universitas ParahyanganPerkuat Tata Kelola Keuangan Negara, Bank Tanah Serahkan Pedoman Akuntansi ke BPK

Ketika dikonfirmasi, orangtua korban berinisial S membenarkan, jika anaknya mengalami perlakuan buruk yang diduga dilakukan oleh senior alias kakak kelasnya di SMAT KN.

“Anak saya akhirnya tidak melanjutkan pendidikan di sana (SMAT KN). Gak cuman anak saya, tapi banyak korban lain juga,” katanya kepada Jabar Ekspres, Kamis (31/7).

S menerangkan, perundungan hingga tindak kekerasan yang diduga dilakukan kakak kelas itu, banyak memakan korban di kelas 10 SMAT KN.

Diketahui, SMAT KN merupakan sekolah menengah atas berasrama penuh, yang dalam sistem pendidikannya menekankan pada pengembangan potensi siswa di bidang akademik, keagamaan, dan keterampilan, dengan disiplin tinggi sebagai landasan.

SMAT KN juga dikenal sebagai sekolah yang berorientasi pada pembentukan karakter siswa yang peduli lingkungan. Meskipun bukan sekolah militer, SMAT KN menerapkan prinsip-prinsip kedisiplinan yang terinspirasi dari semi-militer.

Dalam metode pembelajaran, SMAT KN menggabungkan kurikulum nasional untuk mata pelajaran umum, dengan muatan lokal untuk keterampilan fungsional dan pendidikan agama.

Sangat disayangkan, nilai-nilai kedisiplinan hingga keagamaan yang digaungkan SMAT KN, justru bertolak belakang realisasinya dengan dugaan adanya aksi perundungan bahkan kekerasan.

Baca Juga:Antara Larangan dan Kebebasan, Psikolog Sarankan Studi Tour Diatur dengan BijakPGN Buka-Bukaan Cara Kelola Bisnis Gas Bumi agar Tetap Ramah Lingkungan

“Saya komunikasi juga dengan orangtua korban yang lainnya, mereka pun sama ternyata tidak melanjutkan pendidikan anaknya, karena anaknya mengalami hal serupa,” terang S.

Menurut informasi yang didapat, jumlah peserta didik yang mengundurkan diri alias tak melanjutkan pendidikan di SMAT KN, sekira mencapai 30 orang siswa.

0 Komentar