JABAR EKSPRES – Kebijakan studi tour kembali mendapat sorotan. Bahkan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bakal memberikan sanksi tegas berupa pencopotan jabatan kepala sekolah apabila nekat menggelar kegiatan pembelajaran di luar sekolah tersebut.
Namun, kebijakan berbeda justru diambil oleh Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa studi tour tetap diperbolehkan selama kegiatan tersebut tidak bersifat wajib, tidak berpengaruh terhadap nilai akademik, dan tidak menimbulkan beban ekonomi bagi peserta.
Di tengah polemik perbedaan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terkait studi tour. sejumlah pakar psikologi pendidikan menilai studi tour memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang siswa, baik dari sisi kognitif maupun sosial-emosional, asalkan dilaksanakan dengan perencanaan yang tepat dan tidak membebani siswa.
Baca Juga:PGN Buka-Bukaan Cara Kelola Bisnis Gas Bumi agar Tetap Ramah LingkunganPrioritaskan Keselamatan Warga, Bupati Bogor Genjot Optimalisasi Penerangan Jalan
Psikolog pendidikan, Billy Martasandy menjelaskan bahwa studi tour seharusnya tidak serta-merta dianggap sebagai kegiatan wajib atau sekadar hiburan. Ia menilai pendekatan Gubernur Jawa Barat yang menegaskan pentingnya kontrol ketat terhadap studi tour adalah langkah yang tepat untuk mencegah praktik komersialisasi pendidikan yang bisa merugikan siswa.
“Kebijakan yang menegaskan tanggung jawab kepala sekolah dalam menjaga esensi pembelajaran adalah penting, karena kegiatan ini memang rawan disalahgunakan. Kontrol dari pemerintah daerah, seperti yang dilakukan oleh Gubernur, memberi sinyal kuat bahwa pendidikan tidak boleh menjadi beban ekonomi,” jelas Billy kepada Jabarekspres, Rabu (30/7).
Namun, Billy juga mengapresiasi pendekatan Pemerintah Kota Bandung yang tetap membuka ruang pelaksanaan studi tour dengan prinsip inklusif dan sukarela. Menurutnya, selama ada perencanaan yang matang, pengawasan yang ketat, serta orientasi yang jelas terhadap pembelajaran, studi tour tetap bisa menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang bermakna.
“Kuncinya adalah keseimbangan. Larangan total bisa menghapus peluang pembelajaran kontekstual, tetapi pembebasan tanpa regulasi juga berisiko. Maka, pendekatan seperti yang diambil Pemkot Bandung yang menekankan tidak adanya paksaan dan beban ekonomi adalah bentuk kebijakan proporsional yang patut ditiru daerah lain,” ujarnya.
Billy menambahkan bahwa studi tour yang dirancang dengan benar bisa memperkuat pemahaman siswa secara kognitif dan mengembangkan kemampuan sosial-emosional seperti tanggung jawab, empati, dan kerja sama. Ia menegaskan bahwa tujuan edukatif harus tetap menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan di luar kelas.
