93 Petugas Kebersihan Dirumahkan, Firman Nugraha: Lansia di Jepang Justru Difasilitasi!

Petugas kebersihan berjalan di samping poster perlawanan di depan SMA Negeri 1, Kota Bandung, Senin (21/4). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Petugas kebersihan berjalan di samping poster perlawanan di depan SMA Negeri 1, Kota Bandung, Senin (21/4). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES  – 93 petugas kebersihan (Pesapon) di Kota Banjar tiba-tiba dirumahkan.  Keputusan itu diambil lantaran para pesapon ini terganjal tembok administrasi seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), yakni ijazah yang tak dimiliki dan usia yang dianggap sudah senja.

Keputusan pahit yang mengakhiri pengabdian panjang mereka ini langsung menuai sorotan, salah satunya dari pemerhati pemerintah Kota Banjar, Firman Nugraha, SH CLA.

Firman Nugraha, yang juga Dosen Universitas Galuh (Unigal), mendesak pemerintah kota untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas, melampaui sekadar ketentuan administrasi kepegawaian. Menurutnya, syarat menjadi Pesapon tidak seharusnya semata-mata dikur dari ijazah atau angka usia di KTP.

Baca Juga:Pasien Meninggal di RSUD Cibabat, BPJS Kesehatan Janji Evaluasi Layanan NasionalViral di Medsos: Pasien Meninggal Dunia, Isu Layanan BPJS di RSUD Cibabat Jadi Sorotan

“Saya kira bisa dicarikan mekanisme hubungan kerja lain, tidak melulu harus dengan skema P3K,” tegas Firman saat dihubungi Selasa (1/7/2025).

Ia menekankan pentingnya pendekatan fungsionalitas dan pemberdayaan sosial terhadap para pekerja, khususnya yang tidak berijazah atau telah berusia lanjut.

“Secara fungsional yaitu sejauh mana mereka punya kinerja dan ini juga sebagai bentuk pemberdayaan bagi mereka yang tidak berijazah, mau bekerja tapi sulit mencari pekerjaan, begitupun untuk mendorong mereka yang berumur (lansia) agar tetap produktif,” jelas Firman.

Ia menggarisbawahi bahwa mempertahankan mereka bekerja bukan hanya soal memberi nafkah, tapi juga menjaga kesehatan mental dan fisik di usia senja. “Jadi sekali lagi harus dilihat dengan pendekatan fungsional dan pemberdayaan sosial,” tegasnya.

Firman lantas mengajak pemerintah kota membuka mata pada praktik di negara lain, khususnya Jepang, yang justru menjadikan pekerjaan seperti itu sebagai ruang aktualisasi bagi para lansia.

“Di Jepang misalnya, justru menjadi pemandangan umum melihat petugas kebersihan disudut-sudut kota adalah mereka para pensiunan, para lansia. Mereka beraktifitas sebagai tukang sapu, tukang kebun, merawat taman kota,” paparnya.

Ia menyebut ada lembaga khusus seperti Silver Human Resource Center (SHRC) yang secara aktif memfasilitasi para lansia, termasuk kelompok marginal, untuk tetap bekerja.

Baca Juga:Polres Cimahi Bongkar Jaringan Penadah Motor Curian di Bandung Barat, Ratusan Suku Cadang DiamankanAksi Lempar Kotoran Warnai Unjuk Rasa Mahasiswa Protes UU TNI di DPRD Jabar

“Dampaknya luar biasa penting bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, selain mereka punya penghasilan tambahan diusia senja, juga mereka didorong untuk tetap aktif dan bugar, tetap sehat. Dengan tetap berkegiatan (kerja) secara psikologis dan mental itu menyehatkan,” ujar Firman.

0 Komentar