Fasilitas Minim, Penyandang Disabilitas di Bandung Masih Terpinggirkan

Fasilitas Minim, Penyandang Disabilitas di Bandung Masih Terpinggirkan
Ilustrasi trotoar inklusif bagi Disabilitas di Kota Bandung (Dimas / JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Meski jumlah penyandang disabilitas di Kota Bandung mencapai ribuan, perhatian terhadap kebutuhan dasar mereka dinilai masih sangat minim. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat sekitar 8.900 penyandang disabilitas di Kota Bandung.

Anak-anak penyandang disabilitas menjadi kelompok yang paling rentan, menghadapi tantangan berlapis mulai dari sosial, psikologis, hingga ekonomi.

Hal ini diungkapkan oleh Asisten Administrasi Umum Kota Bandung, Tono Rusdiantono, yang menyoroti pentingnya peran lingkungan sekitar dalam membangun kepercayaan diri mereka.

Baca Juga:Pemkot Terus Dorong Bandung Jadi Kota Inklusif dan Ramah AnakPuskesmas Puraseda Viral Dikomplain Warga, Dinkes Kabupaten Bogor Buka Suara

“Stigma dan pengucilan kerap membuat mereka kehilangan rasa percaya diri. Maka lingkungan dan keluarga harus berperan aktif dalam mendukung mereka,” ujar Tono, Minggu (29/6).

Namun, dukungan lingkungan sosial saja tidak cukup. Penyandang disabilitas masih dihadapkan pada realitas infrastruktur kota yang belum inklusif. Banyak fasilitas umum seperti trotoar, transportasi, gedung layanan publik, hingga sekolah-sekolah belum sepenuhnya ramah bagi mereka.

Ketiadaan jalur landai, guiding block, lift yang layak, hingga sistem informasi yang dapat diakses, mencerminkan kurangnya keseriusan pemerintah dalam mengakomodasi kebutuhan warga difabel.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa kondisi fasilitas dan sarana prasarana untuk penyandang disabilitas masih sangat minim. Maka dari itu, diakuinya, fokus utama saat ini adalah pembenahan infrastruktur dalam ruang kewenangan pemerintah kota.

“Ya nggak banyak. Saya bilang tadi bahwa fasilitas dan prasarana umum kita memang masih sangat kurang untuk bisa diakses oleh yang disabilitas,” ungkap Farhan.

“Nah itu dulu yang diperbaiki. Karena dengan demikian diharapkan bisa mempengaruhi pola pikir dan perilaku kita semuanya. Dan itu nanti akan berkembang ke mana-mana,” lanjutnya.

Berbagai komunitas penyandang disabilitas di Bandung telah lama menyuarakan kebutuhan mereka akan transportasi yang aman, pendidikan inklusif, serta ruang publik yang dapat diakses tanpa hambatan.

Baca Juga:Optimalisasi Aset, Pemprov Bakal Gelar Event Paralayang Dunia di Bukit Batu Dua SumedangGersangnya Perbukitan Cimenyan Bandung, Perbaikan Lingkungan Dilakukan Lewat Aksi Tanam 3.000 Pohon Keras

Namun hingga kini, banyak tuntutan itu belum ditindaklanjuti secara serius. Implementasi Perda tentang Disabilitas pun dinilai masih lemah, hanya berjalan di atas kertas.

Maka, sudah saatnya Pemerintah Kota Bandung bergerak lebih cepat dan konkret, bukan hanya mengakui keterbatasan yang ada, tetapi juga memastikan hak-hak penyandang disabilitas terpenuhi secara adil dan merata. Kota yang baik bukan hanya indah bagi turis, tapi layak ditinggali oleh seluruh warganya, tanpa terkecuali. (Dam)

0 Komentar