JABAR EKSPRES – Di tengah gemuruh pembangunan dan janji manis peningkatan mutu pendidikan, serta pembangunan proyek raksasa PLTA Upper Cisokan.
Di sudut pelosok Desa Bojongsalam, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) puluhan anak justru belajar dalam ketakutan karena bangunan sekolah reyot dan nyaris ambruk.
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cangkuang, satu-satunya lembaga pendidikan di wilayah terpencil yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur itu berada dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Baca Juga:Pendaki Asal Tamansari Hilang saat Mendaki Gunung Salak 1, SAR Gabungan Lakukan PencarianSering Langgar Aturan, 8 Ribu Lebih Truk ODOL Diamankan!
Bangunannya nyaris roboh, tak pernah disentuh bantuan perbaikan, seolah luput dari perhatian Kementerian Agama ataupun PLTA Upper Cisokan yang berada tak jauh dari sana.
“Satu ruangan sudah ambruk sejak tahun lalu. Kami tambal sendiri pakai triplek dan papan. Kalau nunggu bantuan, entah sampai kapan,” ujar Gungun, salah satu dari tujuh guru honorer yang mengajar dengan upah jauh di bawah UMK kepada wartawan.
Sekolah ini menampung sedikitnya 70 anak dari keluarga prasejahtera di Kampung Langkop, Ciawitali, dan Cangkuang. Mereka datang setiap hari dengan pakaian lusuh, membawa semangat besar, meski tempat mereka belajar sudah lebih mirip bangunan tak berpenghuni.
Ironisnya, anak-anak di Cangkuang untuk sampai ke sekolah, mereka harus berjalan kaki menembus hutan setiap hari, demi bisa belajar di ruang kelas penuh debu, retak, dan ancaman runtuh.
Padahal jarak antara MI dengan proyek PLTA Upper Cisokan yang dikelola PT PLN, yang katanya akan jadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Asia Tenggara, berdiri megah hanya beberapa kilometer dari sekolah.
Yang lebih menyakitkan, Upper Cisokan bahkan tak pernah menyentuh madrasah ini dalam program CSR nya. Padahal mereka berada dalam radius pengaruh langsung dari proyek.
Listrik untuk kota besar mungkin akan segera menyala, tapi anak-anak di kaki proyek masih belajar dalam gelap baik secara harfiah maupun harapan.
Baca Juga:Regulasi Harga Elpiji di Pengecer Belum Jelas, Pemkab KBB: Laporkan Jika di Atas HETSerangan AS ke Iran Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Naik?
“Sekolah MI ini menjadi harapan terakhir mereka. Sementara untuk mendapatkan pendidikan masih jauh dari kata laik,” kata Gungun.
Selain itu, sejak ruangan runtuh pada 2023 akibat guncangan gempa dari Garut, tak ada kunjungan dari Kemenag Bandung Barat apalagi bantuan. Beberapa permohonan dari pihak sekolah hanya berujung janji kosong.
