“Tidak butuh gedung mewah, cukup tempat aman buat belajar,” kata Gungun lirih.
Tujuh guru yang ada mengajar tanpa status PNS, dan nyaris tanpa perlindungan negara. Mereka mengaku hanya ingin anak-anak tetap bisa membaca dan menulis, meski nyawa dipertaruhkan setiap kali hujan datang.
Kondisi ini jelas menampar wajah sistem pendidikan nasional yang kerap membanggakan program-program besar, namun gagal melihat realita di pelosok negeri.
Baca Juga:Pendaki Asal Tamansari Hilang saat Mendaki Gunung Salak 1, SAR Gabungan Lakukan PencarianSering Langgar Aturan, 8 Ribu Lebih Truk ODOL Diamankan!
MI Cangkuang adalah potret nyata ketimpangan dan pembiaran. Ketika pendidikan menjadi janji di atas panggung politik, anak-anak ini justru harus belajar di atas puing-puing yang mengancam keselamatan mereka setiap hari.
“Sekolah ini bisa roboh kapan saja. Tapi kami tak punya pilihan lain,” tandas Gungun lirih. (Wit)
