JABAR EKSPRES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menyoroti meningkatnya ancaman mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat, terutama generasi muda.
Kepala DLH Cimahi, Chanifah Listyarini, mengungkapkan kekhawatiran atas perubahan gaya hidup yang mendorong peningkatan konsumsi plastik sekali pakai.
Menurut Chanifah, proporsi sampah organik di Cimahi terus menurun, sementara sampah anorganik, terutama plastik, meningkat drastis.
Baca Juga:Jelang Idul Adha, Dishub Cimahi Periksa Kelayakan Angkutan Umum dan BarangNGERI! Driver Ojol di Cangkuang Dianiaya OTK Pakai Tang, Pelaku Berhasil Ditangkap
“Dulu sekitar 60 persen sampah itu organik, sekarang tinggal 40–45 persen saja. Sisanya plastik dan anorganik lainnya,” ujarnya saat ditemui di Alun-Alun Cimahi, Kamis (5/6/2025).
Ia menyebut gaya hidup praktis, seperti membeli makanan siap saji dan membawa pulang dalam kantong plastik, menggantikan kebiasaan lama yang lebih ramah lingkungan.
“Zaman dulu orang belanja pakai rantang atau wadah sendiri. Sekarang semua serba plastik, bahkan beli bakso pun langsung dikasih kresek,” tuturnya.
Chanifah menegaskan, bahaya plastik tak hanya soal jumlahnya, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan. Mikroplastik – partikel plastik berukuran sangat kecil – dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan mengendap dalam jangka panjang.
“Mikroplastik itu sulit terurai dan bisa masuk ke tubuh. Efeknya tidak langsung, tapi 10–20 tahun lagi bisa menyebabkan gangguan metabolisme hingga penyakit kronis,” jelasnya.
Ia mengingatkan, jika kondisi ini dibiarkan, generasi muda Indonesia bisa menghadapi krisis kesehatan serius di masa depan.
“Jangan sampai di tahun 2045, yang seharusnya generasi emas, justru jadi generasi yang sakit-sakitan. Ini bom waktu,” tegasnya.
Baca Juga:Gaya Hedon DPRD KBB Belanja Tablet Mewah, Abaikan Inpres EfisiensiMarkas Damkar Kabupaten Bandung Diserang Ulat Bulu, 15 Petugas Alami Gatal-Gatal
Terkait kebijakan, Chanifah mengatakan aturan pengendalian plastik sebenarnya sudah ada di tingkat nasional dan provinsi. Namun, pengawasan di daerah masih lemah.
“Kebijakan dari Menteri dan Gubernur sudah ada. Tapi untuk pengawasan, kami di daerah belum bisa bertindak tegas,” ujarnya.
Meski belum ada sanksi formal, DLH Cimahi terus melakukan edukasi dan sosialisasi ke masyarakat. Ia berharap warga tidak hanya jadi penonton, tapi terlibat aktif sebagai pelaku perubahan dalam pengelolaan sampah.
“Minimal masyarakat mulai sadar. Jangan cuma jadi penonton. Kita semua bagian dari solusi, bukan justru jadi bagian dari polusi,” tutupnya.
