Shwe Kokko telah dikenal luas sebagai pusat kejahatan terorganisir, dengan berbagai aktivitas ilegal yang merajalela. Di antara aktivitas tersebut termasuk penipuan daring melalui call center, perjudian ilegal, pencucian uang, dan perdagangan manusia.
Sejak pembangunannya dimulai pada tahun 2017, kota ini telah menjadi kawasan tertutup dan tidak dapat diakses oleh turis biasa. Ketika perang saudara di Myanmar meningkat pascakudeta militer pada tahun 2021, akses ke Shwe Kokko menjadi semakin sulit.
Perjalanan dari Yangon, kota terbesar di Myanmar, ke Shwe Kokko bisa memakan waktu hingga tiga hari, melewati berbagai pos pemeriksaan, jalan yang diblokir, dan bahkan potensi baku tembak bersenjata.
Baca Juga:Desain Mewah, Performa Ganas Poco F7 Hadir di Indonesia, Ini DetailnyaTempat Jual Beli Uang Kuno Terlengkap di Jakarta Selatan, Aman dan Terpercaya!
Minimnya pengawasan dari pemerintah Myanmar, terutama di daerah-daerah terpencil yang dilanda konflik, menjadi faktor utama yang memungkinkan sindikat kejahatan beroperasi tanpa rasa takut.
Banyak orang dari berbagai negara terjerumus dalam jaringan penipuan dan perjudian daring ini. Mereka awalnya direkrut oleh perusahaan-perusahaan palsu, namun kenyataannya dibawa ke Shwe Kokko dan ditahan di sana untuk bekerja sebagai pelaku penipuan daring.
Sebagian dari mereka yang dianggap tidak menghasilkan keuntungan bagi perusahaan kemudian diperjualbelikan ke geng-geng sindikat di Myanmar atau dikirim ke negara lain.
Penipuan Terselubung dalam Balutan Lowongan Kerja
Zhijiang dan kelompoknya menjalankan modus penipuan dengan mendirikan perusahaan-perusahaan palsu serta situs web fiktif yang menawarkan lowongan pekerjaan. Iklan lowongan kerja juga disebarkan melalui berbagai platform media sosial, lengkap dengan janji gaji tinggi, fasilitas makan-minum, dan layanan kesehatan yang ditanggung penuh oleh perusahaan. Hal ini membuat banyak orang tergiur.
Beberapa datang secara sukarela, namun tidak sedikit pula yang dipaksa atau bahkan diculik. Setelah melamar, para korban diberi penjelasan bahwa pekerjaan mereka adalah menipu orang lain secara daring. Semua biaya perjalanan—mulai dari tiket pesawat hingga transportasi lokal—dibayarkan oleh perusahaan, sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak dalam sindikat kejahatan.
Bisnis penipuan ini kini telah tumbuh menjadi usaha bernilai miliaran dolar. Jaringan ini melibatkan ribuan pekerja dari Tiongkok, Asia Tenggara, Afrika, hingga wilayah anak benua India. Mereka dipaksa bekerja di dalam kompleks tertutup yang dikelilingi tembok tinggi, dengan tujuan untuk menguras tabungan para korban di seluruh dunia.
