JABAR EKSPRES – Shwe Kokko, atau yang dijuluki sebagai “Kota Pohon Hujan Emas”, merupakan sebuah kota megah yang terletak di wilayah selatan Myanmar. Kota ini berada di tepi barat Sungai Moi, dalam Distrik Myawaddy yang berbatasan langsung dengan Thailand. Secara administratif, Shwe Kokko berada di Provinsi Karen, salah satu wilayah yang paling terpencil dan terisolasi di Asia.
Pemandangan kota ini sangat mencolok dan memukau. Banyak orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini merasa perlu berkedip untuk memastikan bahwa apa yang mereka lihat bukanlah mimpi atau ilusi.
Pembangunan kota ini dilakukan oleh sebuah perusahaan pengembang bernama Yatai International Holding Group, yang terdaftar di Hong Kong namun berkantor pusat di Thailand. Tak tanggung-tanggung, perusahaan tersebut menggelontorkan dana hingga 15 miliar dolar Amerika Serikat, atau sekitar Rp245 triliun, untuk mewujudkan kota ini.
Baca Juga:Desain Mewah, Performa Ganas Poco F7 Hadir di Indonesia, Ini DetailnyaTempat Jual Beli Uang Kuno Terlengkap di Jakarta Selatan, Aman dan Terpercaya!
Dalam video promosi resminya, Shwe Kokko digambarkan sebagai kota resor dan destinasi liburan yang aman bagi turis Tiongkok serta sebagai surga bagi kalangan superkaya. Pada malam hari, kota ini berubah menjadi pusat hiburan yang gemerlap, lengkap dengan bar karaoke, kasino mewah, serta panggung DJ kelas atas.
Delapan tahun yang lalu, tempat ini hanyalah kawasan sepi dengan pepohonan liar, bangunan semen yang dibangun secara asal-asalan, dan sisa-sisa konflik perang saudara yang berlangsung hampir 70 tahun.
Kini, sekilas Shwe Kokko tampak seperti kota provinsi di Tiongkok, dengan papan nama dan baliho bertuliskan huruf Mandarin yang menempel di berbagai gedung. Lalu lintas kendaraan konstruksi buatan Tiongkok pun hilir mudik di jalan-jalan, dan mayoritas pengelola tempat usaha merupakan tenaga kerja asal Tiongkok.
Awalnya, kota ini dibangun sebagai kota kasino. Saat ini, terdapat setidaknya sembilan kasino beroperasi di Shwe Kokko. Selain itu, dibangun pula vila-vila mewah dan berbagai tempat hiburan elit. Tak heran, pembangunan ini disambut gembira oleh banyak pihak, termasuk pasukan penjaga perbatasan dari etnis Karen, yang melihat proyek ini sebagai peluang untuk membangun kemakmuran di wilayah mereka.
