Gedung-gedung tempat penipuan ini dijalankan juga berfungsi sebagai tempat tinggal bagi para pekerja, yang bekerja sepanjang hari sebagai penipu daring. Di setiap jendela gedung dipasangi jeruji besi untuk mencegah pelarian. Para pekerja dilarang meninggalkan ruangan kerja mereka. Jika ada keperluan keluar—meskipun hanya sebentar—mereka harus melewati pengamanan yang sangat ketat.
Pekerja lokal asal Myanmar diizinkan keluar seminggu sekali, namun hanya diperbolehkan selama maksimal satu jam dan wajib kembali tepat waktu.
Berdasarkan kesaksian Edi (bukan nama sebenarnya), seorang warga negara Indonesia yang terjebak dalam sindikat penipuan ini, para pekerja dipaksa bekerja selama 22 jam setiap hari. Para pekerja laki-laki diwajibkan berpura-pura menjadi perempuan di dunia maya untuk menipu pria-pria kesepian dari Amerika Serikat dan Eropa.
Baca Juga:Desain Mewah, Performa Ganas Poco F7 Hadir di Indonesia, Ini DetailnyaTempat Jual Beli Uang Kuno Terlengkap di Jakarta Selatan, Aman dan Terpercaya!
“Di dalam sana, kami disuruh membujuk seseorang—khususnya laki-laki. Kami dibuatkan identitas sebagai perempuan, lalu menggunakan aplikasi seperti WhatsApp untuk mencari korban dari Italia, Rusia, atau negara lainnya. Mereka mengira kami benar-benar perempuan.
Bahkan, tersedia juga model-model perempuan sungguhan. Jika ada pelanggan yang ingin melakukan video call atau sekadar menerima voice note, maka model-model itulah yang akan melakukannya,” ungkap Edi.
Namun, kenyataan di luar gedung sangat kontras. Di setiap sudut kota dan sepanjang jalan raya, terpajang baliho besar bertuliskan dalam tiga bahasa: “Kerja Paksa dan Perdagangan Manusia Dilarang.” Sayangnya, di dalam gedung tersebut, penindasan, kekerasan, kerja paksa, dan penyiksaan terjadi hampir setiap hari.
Menurut pengakuan Pomjay, seorang mantan penipu yang pernah bekerja di Swekoko dan Kamboja, setiap aksi penipuan dilakukan menggunakan identitas palsu—termasuk nomor ponsel curian, akun media sosial palsu, serta platform pesan instan palsu. Para pelaku membangun hubungan romantis palsu dengan para korban.
Korban akan dihubungi langsung melalui telepon genggam, dirayu, dan dimanipulasi secara emosional. Bahkan, para pekerja perempuan dipaksa untuk mengirimkan foto-foto tidak senonoh kepada calon korban demi meluluhkan hati mereka. Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan, para korban kemudian dibujuk untuk menginvestasikan uang dalam jumlah besar ke dalam skema investasi bodong.
