Shwe Kokko Kota Judi Raksasa di Myanmar yang Dibangun dari Hasil Menipu Orang Indonesia

Shwe Kokko Kota Judi Raksasa di Myanmar
0 Komentar

Aplikasi palsu pun dirancang sedemikian rupa untuk menampilkan informasi keuntungan palsu demi meyakinkan korban. Setelah korban terperangkap, mereka mulai melakukan investasi.

Menurut kesaksian Rapi, seorang spesialis komputer asal Sri Lanka yang juga terjerat dalam sindikat ini, apabila ada korban yang mentransfer dana sebesar 100.000 dolar AS, maka perusahaan akan mengirimkan kembali 1.000 dolar AS dan mengklaim itu sebagai “keuntungan pertama.” Mereka mengatakan bahwa dana awal tidak akan hilang dan akan terus menghasilkan profit, padahal kenyataannya hanya setengah dari dana tersebut yang dikembalikan—sisanya diambil oleh perusahaan.

Setelah meraup sebanyak mungkin uang dari korban, semua akun pesan, aplikasi, dan nomor telepon mendadak hilang, tak lagi bisa dihubungi.

Baca Juga:Desain Mewah, Performa Ganas Poco F7 Hadir di Indonesia, Ini DetailnyaTempat Jual Beli Uang Kuno Terlengkap di Jakarta Selatan, Aman dan Terpercaya!

Para pekerja diwajibkan mendapatkan korban setiap harinya. Jika target tidak tercapai, mereka akan dipukuli dan disiksa—kecuali mereka bisa membayar uang tebusan.

Nilesh, seorang pemuda berusia 21 tahun asal Maharashtra, India bagian barat, adalah salah satu korban yang berhasil keluar dari “neraka dunia” ini setelah membayar uang tebusan sebesar 70 dolar AS.

Ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana orang-orang yang gagal mencapai target atau tidak mampu membayar tebusan dibawa ke ruangan bos. Di sana, mereka disiksa secara brutal—dipukul dengan kursi, disetrum, dan dianiaya. Peristiwa ini terjadi setiap hari dan berulang kali.

Menurut kesaksian Nil, banyak pekerja yang mencoba melarikan diri dari kompleks tempat mereka disekap. Namun, sebagian besar dari mereka tewas tersengat listrik di pagar kawat berduri yang mengelilingi gedung tersebut. Selain itu, para pria bersenjata menjaga setiap pintu masuk selama 24 jam.

Banyak warga negara Indonesia juga menjadi korban sindikat penipuan dan perjudian ini. Salah satu warga Indonesia yang berhasil lolos dari cengkeraman sindikat tersebut memberikan kesaksian:

“Kami dijual ke Myanmar dan dipaksa bekerja di perusahaan penipuan. Awalnya hanya dihukum secara militer, namun lama-kelamaan berlanjut menjadi penyiksaan fisik. Satu orang bisa disiksa oleh delapan sampai sepuluh orang menggunakan berbagai alat penyiksaan seperti pipa besi, pipa paralon, rotan, cambuk kulit, cambuk kawat, dan alat setrum.

0 Komentar