Banyak Korban Perdagangan Organ Manusia di Kamboja, Gara-Gara Pemerintah Indonesia?

Perdagangan Organ Manusia di Kamboja
0 Komentar

Setelah menerima kabar yang cukup mengejutkan, orang tua Soleh berusaha keras menghubungi kenalan anaknya yang berada di Kamboja. Ketika akhirnya berhasil dihubungi dan dikonfirmasi bahwa kabar tersebut memang benar, kenalan Soleh mengirimkan sebuah video yang menunjukkan kondisi Soleh yang sudah sangat lemas dan kritis.

Beberapa hari kemudian, dengan perasaan yang hancur dan penuh kecemasan memikirkan keadaan anaknya, orang tua Soleh menerima kabar duka bahwa Soleh telah meninggal dunia pada tanggal 7 Maret 2025. Jenazah Soleh akhirnya tiba di Indonesia pada tanggal 15 Maret. Setelah dilakukan otopsi, ditemukan sobekan pada bagian kiri bawah perutnya, dan ginjalnya telah hilang.

Tak terbayangkan betapa hancurnya hati orang tua mana pun ketika melihat anaknya yang merantau untuk membahagiakan keluarga, justru diperlakukan dengan begitu kejam dan pulang dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Baca Juga:Memahami Fenomena Banyak Orang Miskin Suka PamerPenyebab Harga BBM Malaysia Lebih Murah dari Indonesia

Sindikat Sudah Berjalan 5 Tahun

Setelah kabar ini viral dan dilakukan penyelidikan lebih lanjut, terungkap bahwa sindikat ini ternyata sudah beroperasi sejak tahun 2019, dan korbannya sudah banyak. Pertanyaannya, mengapa sindikat sebesar ini baru terungkap setelah lima tahun beroperasi?

Seperti yang sudah bisa ditebak, ada permainan di balik layar. Dari 12 tersangka yang ditangkap, dua di antaranya merupakan oknum polisi yang bertugas menghilangkan barang bukti dan memastikan agar kasus ini tidak disentuh oleh aparat penegak hukum. Selain itu, salah satu tersangka lainnya adalah oknum imigrasi yang bertugas meloloskan para korban yang akan dikirim ke luar negeri.

Betapa berat perjuangan kita dalam menghadapi invasi sindikat kejahatan dari Kamboja ini. Dimulai dari situs-situs judi online yang dipromosikan oleh publik figur, didukung oleh oknum di Kominfo yang seharusnya melindungi masyarakat dan memblokir situs semacam itu. Kini bahkan praktik perdagangan organ manusia pun didukung oleh oknum aparat yang seharusnya menegakkan hukum.

Mafia-mafia Kamboja ini seolah tidak pernah berhenti berinovasi demi mempertahankan cengkeramannya terhadap Indonesia—dari menjaring pengguna situs judi, mencari tenaga kerja untuk situs tersebut, hingga kini berkembang menjadi pencurian organ dari orang-orang yang berhasil mereka tipu.

0 Komentar