Mafia-mafia Kamboja ini cukup cerdik dalam menjaring orang-orang yang memiliki tingkat literasi digital rendah. Mereka tidak menyebarkan lowongan kerja palsu tersebut melalui platform resmi seperti JobStreet, LinkedIn, atau situs rekrutmen terpercaya lainnya, melainkan mempostingnya di Facebook—karena di sanalah mayoritas masyarakat dari kalangan bawah yang minim literasi digital berkumpul.
Dengan kondisi negara kita yang semakin sulit untuk bertahan hidup—PHK terjadi di mana-mana, mencari pekerjaan makin sulit, daya beli masyarakat menurun, dan berbagai sektor bisnis tengah lesu—siapa yang tidak tergiur dengan tawaran pekerjaan mudah bergaji tinggi?
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka yang terjebak dalam lowongan palsu tersebut. Bisa jadi, mereka memang tidak memiliki pilihan lain. Namun, yang seharusnya bertanggung jawab dalam hal ini adalah pemerintah—pemerintah yang gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup dan layak bagi rakyatnya, serta pemerintah yang abai terhadap nasib masyarakat kecil, sementara mereka sendiri hidup dalam kemewahan.
Baca Juga:Memahami Fenomena Banyak Orang Miskin Suka PamerPenyebab Harga BBM Malaysia Lebih Murah dari Indonesia
Dulu, pemerintah dengan lantang menyatakan bahwa judi online adalah tindakan yang dilarang keras. Namun kenyataannya, para figur publik yang mempromosikan situs-situs judi tersebut tidak pernah ditindak secara tegas. Mereka terus berkoar ingin memberantas praktik judi online, tetapi faktanya, sindikat kriminal ini justru tumbuh subur di bawah bayang-bayang mereka sendiri.
Bahkan, terdapat dugaan kuat bahwa salah satu anggota DPR merupakan pemain besar dalam lingkaran judi online di Kamboja. Dan sekarang, ketika sudah ada korban yang kembali ke Indonesia dalam kondisi mengenaskan, barulah pemerintah bergerak untuk menyelidikinya—setelah sindikat tersebut beroperasi selama lima tahun dengan mulus di bawah perlindungan rekan-rekan mereka sendiri.
Pemerintah kita tampaknya tidak pernah benar-benar serius menghadapi persoalan seperti ini. Yang mereka lakukan hanyalah berbicara tanpa tindakan nyata, sekadar menenangkan masyarakat dengan gaya komunikasi yang tidak layak dan tidak menyelesaikan masalah.
Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri, teman-teman. Kita harus memiliki komitmen kuat untuk tidak terlibat dalam hal-hal semacam itu, dan jangan lupa untuk saling mengingatkan orang-orang di sekitar kita.
