JABAR EKSPRES – Dua puluh tahun berlalu sejak tragedi memilukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah yang merenggut 157 nyawa. Peristiwa tragis pada 21 Februari 2005 itu masih membekas di ingatan para penyintas, termasuk Abah Widi (62), sesepuh Kampung Adat Cireundeu.
Ledakan hebat yang terjadi dini hari itu memicu longsoran sampah setinggi 60 meter dengan panjang 200 meter. Dua kampung, Cilimus dan Pojok, di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, luluh lantak dalam sekejap.
“Tepat dua dekade lalu, peristiwa mengerikan itu terjadi. Itu bukan bencana alam, tapi kelalaian manusia dalam mengelola sampah,” ujar Abah Widi kepada awak media dalam rangkaian HPSN, Sabtu (22/2/2025).
Baca Juga:Dedie A Rachim Teguhkan Visi Misi untuk Bogor Beres Bogor MajuSiswa di Bandung Barat Tewas Tertusuk Gunting, Pihak Sekolah Beberkan Kronologisnya
Ia mengenang momen mencekam ketika ledakan diikuti longsoran sampah yang menyapu bersih permukiman.
“Warga melihat api seperti meteor, lalu terjadi ledakan. Tak lama kemudian, longsoran sampah turun dengan dahsyat,” kenangnya.
Tragedi ini menjadi pengingat betapa pentingnya pengelolaan sampah yang baik.
“Kami ingin peristiwa ini terus dikenang. Yang meninggal bukan hewan, tapi manusia,” tegasnya.
Setiap tahun, warga memperingati peristiwa ini untuk menghormati para korban.
“Sudah 20 kali diperingati, artinya sudah 20 tahun berlalu,” katanya.
Kampung Cireundeu sendiri selamat dari longsoran karena terlindungi oleh gunung. Namun, beberapa warganya tetap menjadi korban karena memiliki keluarga di Kampung Cilimus.
Selain itu, mereka juga terdampak bau menyengat dan serangan lalat akibat TPA tersebut.
“Kita tahu, sampah di TPA Leuwigajah banyak mengandung plastik dan minyak. Itu jumlahnya luar biasa,” ujarnya.
Abah Widi juga menyoroti kelalaian dalam pengelolaan sampah. Akibatnya, lingkungan sekitar semakin tercemar.
Baca Juga:Dukung Efektifitas BRT Urai Kemacetan, 34 Halte Bakal Dibangun di Kota BandungBencana Longsor Landa Kabupaten Ciamis, BPBD Lakukan Ini!
“Awalnya ada kesepakatan sampah harus ditimbun kembali setelah dibuang. Sayangnya, aturan itu diabaikan,” katanya.
“Bayangkan jika sampah terus-menerus dibuang tanpa ditimbun. Itu terjadi 24 jam nonstop, membuat lingkungan dan jalan di Cireundeu kotor,” tambah Abah Widi.
