Sebagai respons atas dampak buruk pengelolaan sampah, warga Kampung Adat Cireundeu menerapkan sistem pengelolaan mandiri bernama ‘Jarian’ (Jaga, Lirik, dan Amankan).
“Konsep Jarian ini membuat warga menampung dan memilah sampah di rumah masing-masing. Ada tiga tempat berbeda untuk daur ulang, sampah organik, dan pakan maggot,” jelas Abah Widi.
Metode ini terbukti efektif dalam mengurangi limbah dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
“Kami tidak ingin kejadian seperti di Leuwigajah terulang,” tegasnya.
Baca Juga:Dedie A Rachim Teguhkan Visi Misi untuk Bogor Beres Bogor MajuSiswa di Bandung Barat Tewas Tertusuk Gunting, Pihak Sekolah Beberkan Kronologisnya
Abah Widi berharap lahan bekas TPA Leuwigajah bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, khususnya para petani di sekitar Cireundeu.
“Tanah ini milik pemerintah, tetapi banyak petani yang menggantungkan hidupnya dari lahan tersebut. Kami ingin lahan ini bisa dikelola warga Cireundeu,” harapnya.
Dia mengusulkan agar pemerintah mendukung pengelolaan lahan ini untuk agrowisata atau peternakan, yang dapat menciptakan lapangan kerja bagi warga.
“Jangan hanya sekadar wacana, harus ada tindakan nyata. Lahan ini bisa bermanfaat, bukan sekadar menjadi kenangan tragedi,” pungkasnya.
Sama halnya dengan Abah Widi, Kang Yana (48), warga Kampung Adat Cireundeu, luka itu masih membekas.
Ia menyayangkan, pemerintahan sebelumnya hanya menetapkan peristiwa tersebut sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), tanpa memperlakukan para korban sebagai pahlawan.
“Seharusnya pemerintah menginisiasi pembangunan monumen peringatan untuk mengenang para korban,” ujar Yana.
Baca Juga:Dukung Efektifitas BRT Urai Kemacetan, 34 Halte Bakal Dibangun di Kota BandungBencana Longsor Landa Kabupaten Ciamis, BPBD Lakukan Ini!
Menurutnya, tugu peringatan ini bisa menjadi pengingat bagi generasi mendatang, terutama masyarakat Bandung Raya, agar peristiwa serupa tak terulang.
Ia juga menyoroti minimnya perhatian pemerintah terhadap bekas lokasi TPA Leuwigajah.
“Sejauh ini, perhatian pemerintah terhadap bekas TPA Leuwigajah hampir tidak ada. Mereka lebih sering datang ke Kampung Cireundeu, tapi itu pun seharusnya ditindaklanjuti dengan kebijakan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Menurut Yana, Kampung Cireundeu telah menjadi pusat perhatian banyak pihak, sehingga kebijakan terkait pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut harus lebih serius.
Yana juga mengenang, pasca-tragedi pemerintah saat itu memberikan santunan bagi keluarga korban sebesar Rp25 juta per keluarga.
